selalu.id - Di usia 14 tahun, DS seharusnya sedang menikmati masa-masa penuh semangat untuk mengejar mimpi.
Remaja perempuan ini dikenal tekun berlatih menembak dan bercita-cita menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan olahraga.
Baca juga: Ternyata, Ini Penyebab Aliran Air di Tambaksari Surabaya Tidak Lancar
Namun kini, setiap kali melihat lapangan tembak, peralatan latihan, atau bahkan mendengar pembicaraan tentang olahraga yang pernah dicintainya, rasa takut justru datang menghampiri.
Bagi DS, lapangan latihan yang dahulu menjadi tempat mengasah kemampuan kini berubah menjadi ruang yang menyimpan kenangan pahit.
Kisah itu mulai terungkap ketika gadis yang baru lulus SMP tersebut mendadak meminta berhenti mengikuti latihan menembak. Permintaan itu sempat membuat keluarganya heran.
Sang ayah, JF (37), mengaku awalnya menganggap keinginan putrinya sebagai hal biasa yang kerap dialami remaja seusianya. Apalagi dalam waktu dekat terdapat agenda penting yang berpotensi menjadi jalan bagi DS untuk mengembangkan karier di dunia olahraga.
Karena itu, keluarga sempat berusaha membujuk agar DS tetap bertahan dan melanjutkan latihan seperti biasa. Namun di balik sikap diamnya, ternyata gadis itu menyimpan beban yang jauh lebih besar.
Malam itu menjadi titik balik bagi keluarga. Setelah berulang kali dipendam, DS akhirnya memberanikan diri menceritakan apa yang selama ini dirasakannya kepada sang ibu.
Tangis pecah. Ketakutan yang selama berbulan-bulan disimpan akhirnya keluar dalam bentuk pengakuan yang mengejutkan keluarga.
"Akhirnya dia tertekan, cerita nggak berani ke saya langsung, ke mamanya pada Senin malam jam 9 malam. Mamanya telpon saya, ada pelecehan itu tadi," ungkap JF, Jumat (12/6/2026).
Menurut cerita yang kemudian disampaikan kepada orang tuanya, DS menduga dirinya mengalami serangkaian tindakan pelecehan yang dilakukan oleh seorang oknum pelatih menembak berinisial JL (40).
Peristiwa traumatis itu disebut terjadi di beberapa lokasi berbeda dan berlangsung lebih dari satu kali.
Awalnya, hubungan keduanya berjalan sebagaimana pelatih dan murid pada umumnya. DS mengikuti latihan rutin dan berusaha meningkatkan kemampuannya.
Namun seiring waktu, ia mulai merasa ada perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Korban mengaku sering mendapat hukuman ketika melakukan kesalahan saat latihan, seperti menjatuhkan magazine atau gagal mengenai sasaran tembak dengan sempurna.
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Pemkot Sediakan Aset Pengganti untuk Warga Sumur Welut
Menurut pengakuan korban kepada keluarganya, hukuman tersebut kemudian menjadi celah yang diduga dimanfaatkan oleh pelaku untuk mendekati dirinya.
Sebagai seorang remaja yang masih menaruh hormat kepada sosok pelatih, DS mengaku tidak berani melawan ataupun menolak secara tegas. Ia memilih diam karena bingung harus bercerita kepada siapa.
Rasa takut semakin besar setiap kali harus datang ke lokasi latihan. Situasi itu terus berulang hingga akhirnya memengaruhi kondisi mental korban.
Kini, trauma menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi DS. Bukan hanya kehilangan rasa nyaman, ia juga kehilangan semangat untuk kembali ke dunia yang pernah begitu dicintainya.
“Kalau melihat lapangan atau perlengkapan latihan, dia masih ketakutan,” tutur ayah DS.
Bagi keluarga, yang paling penting saat ini bukan sekadar proses hukum, melainkan bagaimana mengembalikan kepercayaan diri dan kesehatan mental DS.
Mereka berupaya mendampingi korban melewati masa-masa sulit agar dapat kembali menjalani kehidupan seperti remaja seusianya.
Baca juga: BEM FEB Unair Bersuara Keras soal Ekonomi RI dan Pilih Tak Demo di Jalanan
Di tengah proses pemulihan itu, keluarga juga berharap laporan yang telah disampaikan kepada kepolisian dapat ditangani secara serius dan profesional.
Kasat Res PPA dan PPO Polrestabes Surabaya, Kompol Melatisari membenarkan bahwa laporan terkait perkara tersebut telah diterima.
Hingga kini, penyidik masih melakukan serangkaian penyelidikan untuk mendalami seluruh keterangan dan bukti yang ada.
“Masih proses penyelidikan,” katanya.
Sementara proses hukum berjalan, DS masih berusaha berdamai dengan luka yang tidak terlihat oleh mata.
Di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi dan harapan, ia kini harus belajar kembali membangun rasa aman yang sempat hilang. Perjalanan itu mungkin tidak mudah, tetapi dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi DS untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya.
Karena bagi seorang anak, tidak ada prestasi yang lebih penting daripada tumbuh dalam lingkungan yang aman, terlindungi, dan bebas dari rasa takut.
Editor : Zein Muhammad