selalu.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (BEM FEB Unair) bersama sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat sipil mendesak pemerintah segera menindaklanjuti tujuh rekomendasi ekonom yang telah disampaikan sejak September 2025.
Desakan itu disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi ekonomi nasional.
Baca juga: Masa Depanku Direnggut: Kisah Sedih Gadis Surabaya Dilecehkan sang Pelatih
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB Unair, Yeni Mafrukah mengatakan berbagai persoalan ekonomi yang terjadi saat ini membutuhkan respons serius dan berbasis kajian ilmiah.
Menurutnya, gerakan tersebut merupakan bentuk keberpihakan terhadap kondisi bangsa.
“Kami ingin mengajak seluruh nafas-nafas ekonomi yang masih berpihak kepada cita-cita bangsa untuk mendesak pemerintah menindaklanjuti tujuh desakan ahli ekonomi yang sudah disampaikan pada September 2025,” terang Yeni, Jumat (12/6/2026).
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menempatkan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai poin utama.
Mereka menilai kebijakan fiskal harus lebih berpihak kepada masyarakat serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Selain itu, BEM FEB Unair juga menyoroti pentingnya menjaga independensi, transparansi, dan integritas lembaga negara guna memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.
Mahasiswa turut meminta pemerintah mengevaluasi berbagai kebijakan yang dinilai berpotensi menghambat ruang tumbuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha lokal.
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Pemkot Sediakan Aset Pengganti untuk Warga Sumur Welut
Mereka juga mendorong reformasi regulasi untuk menciptakan kepastian hukum dan iklim investasi yang lebih kondusif.
Poin lainnya mencakup kebijakan pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi, penguatan penggunaan data dan riset dalam pengambilan keputusan, serta perbaikan kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan.
“Kami ingin pemerintah tidak meninggalkan kepakaran. Pergantian pemerintahan saja tidak bisa memperbaiki masalah sistemik. Pemerintah harus tetap memegang teguh kajian akademik,” tegas Yeni.
Berbeda dengan gerakan mahasiswa pada umumnya, penyampaian sikap kali ini tidak dilakukan melalui demonstrasi jalanan. Mahasiswa memilih menyuarakan kritik melalui forum pernyataan sikap sebagai bentuk kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah.
Baca juga: Surabaya Mencekam, Konvoi Pemuda Mabuk Berujung Darah
“Diam bukan sebuah keberpihakan. Ketika kita diam, seolah-olah kita setuju dengan kondisi carut-marut perekonomian Indonesia saat ini,” paparnya.
Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Unair, BEM FEB Universitas Negeri Surabaya (Unesa), serta sejumlah elemen masyarakat sipil.
Meski belum merencanakan aksi lanjutan dalam waktu dekat, mahasiswa membuka peluang melakukan konsolidasi kembali apabila perkembangan situasi ekonomi nasional dinilai semakin mendesak.
Pernyataan sikap tersebut menjadi sorotan karena datang dari kalangan akademisi ekonomi yang secara khusus menyoroti arah kebijakan fiskal, iklim investasi, demokrasi ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan di tengah dinamika ekonomi nasional.
Editor : Zein Muhammad