selalu.id - Konflik Timur Tengah belum usai. Bagaimana kondisi ekonomi Indonesia di tengah gejolak tersebut? Baik-baik saja atau bikin was-was?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa berdasarkan indikator makro ekonomi menunjukkan bahwa Indonesia masih kuat.
Baca juga: Gejolak Dunia Picu Peralihan Mobil Dinas ke Listrik
Seperti diketahui bahwa dampak dari perang tersebut adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai di atas US$100 per barel. Sehingga menimbulkan kekhawatiran kenaikan inflasi global, penurunan daya beli masyarakat, hingga krisis ekonomi.
Pertama, dari sisi daya beli masyarakat Airlangga menunjukkan bahwa konsumsi domestik dan Mandiri Spending Index masih berada di level yang baik.
"Kita punya konsumsi domestik itu masih kuat, masih 54�ri PDB, dan Mandiri Spending Index sudah 360,7, itu tinggi. Kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mall ramai, dan program diskon dari Bina Belanja di Indonesia saja juga jalan terus. Apalagi THR sudah digelontorkan, sudah cair, sehingga daya beli masyarakat terasa baik," ungkapnya kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Airlangga menekankan bahwa utang negara sebesar 40�ri PDB, atau di bawah batas aman 60%.
"Rasio utang luar negeri ini 29,9% itu utang yang luar negeri. Utang dalam negeri ada sekitar 10% lagi, jadi total utang kita 40%," jelasnya.
Selain itu, tingkat cadangan devisa Indonesia juga disebutkan oleh Airlangga masih mampu mencukupi 6 bulan impor.
Baca juga: Harga Pupuk Nonsubsidi Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, DPRD Jatim: Ini Sangat Berbahaya!
Kemudian indeks manufaktur Indonesia dijelaskan Airlangga berada dalam posisi yang tinggi, yakni 53,8 yang menurutnya sebagai indikasi bahwa adanya kepercayaan berusaha bagi usaha pengolahan.
"Dari segi manufaktur juga baik 53,8. Ini sebetulnya all time high, ini tertinggi. Artinya para manufaktur ini optimis dengan berbagai perjanjian yang ditandatangani, sehingga mereka punya kepercayaan tinggi terhadap apa yang dijalankan oleh pemerintah," papar Airlangga.
Ia mengatakan saat terjadi gejolak ekonomi dunia saat ini, peran APBN sebagai shock absorber pun berjalan dengan baik.
"APBN tetap bekerja sebagai shock absorber dalam bentuk bantuan pangan Rp11,92 triliun dan juga memberikan THR, baik ASN, TNI, Polri, kemudian transportasi, subsidi, dan BBM," sebut Airlangga.
Baca juga: Wakil PM Australia Diam-diam Temui Presiden Prabowo di Kertanegara, Ada Apa?
Kemudian dari pendapatan pajak per Februari tumbuh kuat 30,4 persen. Jadi ini juga sebuah capaian yang bagus dan defisit APBN terkendali 0,53 persen dari PBB.
"Artinya secara makro, walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid," tambahnya.
Dengan kondisi internal yang menurutnya masih solid, Airlangga sendiri masih yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5% pada 2026.
"Jadi dengan angka-angka ini cukup optimis pertumbuhan bisa di sekitar 5,5%," tandas dia.
Editor : Zein Muhammad