selalu.id – Keberhasilan Surabaya dalam mengelola sampah dan membangun kota berkelanjutan menarik perhatian dunia. Pemerintah Kota (Pemkot) Mangaung, Afrika Selatan, datang langsung ke Kota Pahlawan untuk belajar dan menjalin kerja sama resmi dengan Pemkot Surabaya.
Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal
Rombongan yang dipimpin Wali Kota Mangaung, Gregory Nthatisi, disambut Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mewakili Wali Kota Eri Cahyadi di Ruang Sidang Sekda, Rabu (12/11/2025).
Kunjungan ini diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Indonesia di Cape Town dan bertujuan memperkuat hubungan kerja sama internasional antarkota, khususnya dalam bidang pembangunan berkelanjutan.
Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat, menjelaskan bahwa kedua kota menandatangani Minutes of Meeting (MoM) yang mencakup enam bidang kerja sama prioritas: ekonomi, perdagangan dan investasi, pengelolaan sampah, pendidikan, kebudayaan dan kepemudaan, pengembangan infrastruktur, serta energi berkelanjutan.
“Fokus utama dari kerja sama ini adalah menciptakan kota yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan. Pemerintah Kota Mangaung secara khusus ingin mempelajari sistem pengelolaan sampah di Surabaya yang dinilai berhasil,” kata Irvan.
Surabaya yang memproduksi sekitar 1.800 ton sampah per hari telah menerapkan sistem waste-to-energy yang mampu menghasilkan sekitar 11 megawatt listrik. Selain itu, sekitar 200 ton sampah per hari dikelola warga melalui bank sampah di tingkat komunitas.
“Sampah bernilai ekonomis dipilah warga, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk atau pakan maggot yang dimanfaatkan peternak ayam dan ikan,” ujarnya.
Baca juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang
Pemkot menargetkan pembangunan empat fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) untuk menuntaskan pengelolaan 600 ton sampah yang belum terolah dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, Wali Kota Mangaung, Gregory Nthatisi, mengungkapkan alasan memilih Surabaya sebagai mitra kerja sama.
“Kami memilih Indonesia karena memiliki sejarah kolonisasi yang sama. Kami melihat Surabaya memiliki struktur kota yang sangat baik dan terorganisir,” kata Gregory.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin
Mangaung yang berpenduduk sekitar 850 ribu jiwa merupakan kota metropolitan utama di Provinsi Free State, mencakup Bloemfontein, ibu kota yudisial Afrika Selatan. Menurut Gregory, sistem dan semangat masyarakat Surabaya dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kotanya.
Selama kunjungan hingga 13 November 2025, delegasi Mangaung akan meninjau Taman Harmoni Keputih, Pusat Daur Ulang Jambangan, TPA Benowo, dan Rumah Batik Suramadu.
“Kami berharap kunjungan ini membuka jalan kerja sama yang saling menguntungkan, terutama dalam menciptakan praktik terbaik bagi pembangunan kota berkelanjutan,” pungkas Gregory.
Editor : Ading