Minggu, 30 Agu 2026 12:56 WIB

Dr WP Djatmiko soal KPK: Jadilah Sapu yang Bersih, Bukan Sapu Kotor!

Dr. W. P Djatmiko. (Dok. Istimewa).
Dr. W. P Djatmiko. (Dok. Istimewa).

selalu.id - Rekam jejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang genap berusia lebih dari dua dekade kini berada di persimpangan jalan.

Merosotnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia menjadi alarm keras bahwa strategi pemberantasan rasuah di tanah air membutuhkan evaluasi total.

Baca Juga: Dr WP Djatmiko soal OTT Bupati Lombok Barat: Biaya Politik Tinggi hingga Lemahnya Pengawas Internal

Menyikapi kondisi tersebut, Calon Pimpinan (Capim) KPK periode 2024–2029, Dr. W. P Djatmiko menekankan pentingnya melakukan perombakan fundamental melalui proses rethinking, reshaping, dan redesigning terhadap aplikasi sistem KPK.

Langkah ini dinilai mendesak agar pemberantasan korupsi kembali berjalan optimal.

"Upaya memperkecil kerugian negara hanya bisa terwujud jika kita memulainya dengan meningkatkan integritas sumber daya manusia (SDM) KPK. Institusi ini harus menjadi sapu bersih yang membersihkan tempat kotor, bukan sebaliknya, menjadi sapu kotor yang justru mengotori tempat yang hendak dibersihkan," tegas Dr WP Djatmiko dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, korupsi di Indonesia saat ini telah berevolusi menjadi sindikasi kejahatan yang sangat kompleks dan canggih akibat kemajuan teknologi informasi.

Pola ini tidak lagi bisa dihadapi hanya dengan mengandalkan pendekatan yuridis dogmatis yang kaku.

Berdasarkan kajiannya, terdapat lima sektor utama yang menjadi ladang subur kerugian negara terbesar, yaitu korupsi politik, pengadaan barang dan jasa pemerintah, perpajakan, perbankan, serta sektor sumber daya alam (SDA).

Di sektor pengadaan barang dan jasa misalnya, Djatmiko menyoroti bahwa secara rata-rata lebih dari setengah kasus korupsi di Indonesia terjadi di wilayah ini, mulai dari tingkat desa hingga kementerian.

Sementara di sektor SDA, potensi kerugian finansialnya sangat masif dan langsung berdampak pada hak kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Hukum Pidana Tanpa Kasta: Menepis Hak Istimewa di Hadapan Hukum

Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, Djatmiko menawarkan dua pilar solusi strategis. Pertama yakni Internalisasi Code of Conduct dan Kualitas SDM

Dengan jumlah personel KPK yang relatif kecil dibandingkan luas wilayah Indonesia, hanya sekitar 1.500 pegawai dengan 30 persen di antaranya yang fokus pada penindakan dan KPK wajib mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas.

Djatmiko menekankan bahwa Pedoman Perilaku Etika (PPE) yang memuat nilai religiusitas, humanisasi, dan liberasi harus dibumikan secara konkret.

Selain itu, ia menuntut proses rekrutmen pegawai yang bebas nilai, tanpa intervensi, tekanan, atau titipan dari pihak eksekutif, legislatif, maupun judikatif.

Perumusan Road Map dan Fraud Control System

Baca Juga: KPK Beri Kota Mojokerto Angka Sempurna dalam Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

KPK dinilai harus memiliki perencanaan strategis yang fokus dan terarah. Djatmiko mendorong pembangunan fraud control system (sistem pengendalian kecurangan) di lima sektor utama kerugian negara.

Tak kalah penting, ia menekankan agar penegakan hukum memprioritaskan pengembalian aset keuangan negara (follow the money, follow the crime) secara agresif, bukan sekadar menjatuhkan hukuman badan.

Ke depan, Djatmiko berharap KPK tidak hanya tajam dalam fungsi represif, melainkan juga agresif di garda terdepan pencegahan korupsi sebelum kejahatan itu terjadi.

Sinergi yang kokoh antara KPK, Polri, Kejaksaan RI, hingga PPATK menjadi kunci utama untuk mereduksi faktor-faktor kondusif penyebab korupsi di Indonesia.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Kick Off Mini Soccer Golkar Jatim Digelar Besok, 176 Tim Berebut Piala Bahlil Lahadalia

Ketua Pelaksana Bahlil Minisoccer Asyik Menuju Puncak, Arif Fathoni mengatakan turnamen ini merupakan rangkaian dari peringatan HUT Golkar ke-62.

Probolinggo Sae Carnival Pukau Ribuan Warga di Alun-alun Kraksaan

Bupati Probolinggo Haris berharap event ini menjadi momentum penguat kebersamaan dan sinergi masyarakat dalam membangun daerah.

Probolinggo Sae Carnival, Ajang Gelaran Kostum Unik di HUT ke-81 RI

Ketika ini sudah tercapai maka dunia pun akan mengenal Probolinggo," ujar Gus Haris.

Gus Salam Ungkap Muktamar ke-35 NU Diwarnai Kekerasan Panitia ke Peserta

Gus Salam menyebut bentuk kekerasan yang dialami korban berupa pemukulan. Hingga saat ini, kata dia, terdapat satu orang yang menjadi korban.

Hadapi Porprov 2027 dan PON 2028, Ju-Jitsu Surabaya Diminta Kompak

Menurut Cak Yebe, persatuan antarperguruan menjadi modal penting menghadapi dua agenda besar olahraga.

Tarung Derajat Antarpelajar BHS Cup III 2026 Bisa jadi Gerbang ke PON

Atlet yang menunjukkan potensi di BHS Cup III dapat terus dibina untuk menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi. Salah satunya Pra-PON 2027 dan PON 2028.