Jumat, 12 Jun 2026 23:37 WIB

Eco Composter, Ubah Beban APBD jadi Peningkatan Ekonomi Sirkular dan Budaya Maritim Surabaya

  • Penulis : selalu.id
  • | Minggu, 26 Apr 2026 09:00 WIB
Ali Yusa (Pengurus PII Jawa Timur | Dewan Pakar IKA ITS Surabaya)
Ali Yusa (Pengurus PII Jawa Timur | Dewan Pakar IKA ITS Surabaya)

selalu.id | OPINI - Surabaya tidak bisa dilepaskan dari jati dirinya sebagai kota pesisir. Sebagai beranda maritim utama di kawasan timur Indonesia, kesehatan ekosistem laut Surabaya adalah cermin dari kedisiplinan tata kelola daratannya. Namun, predikat metropolitan seringkali membawa konsekuensi pelik: timbulan sampah yang mencapai 1.600 hingga 1.800 ton per hari. Di sinilah letak paradoksnya; jika pengelolaan di darat gagal, maka identitas maritim kita hanyalah slogan di atas air yang tercemar.

​Keberhasilan Surabaya meraih predikat Kota Terbaik 1 dalam Pengelolaan Sampah nasional 2025 dengan skor 74,92 adalah modal besar. Namun, tantangan ke depan menuntut pergeseran paradigma dari sekadar "membersihkan kota" menjadi "mengurangi beban dari sumber". Inovasi Eco Composter hadir bukan sekadar sebagai alat teknis, melainkan instrumen ekonomi dan ekologis untuk memutus rantai polusi dari hulu ke muara.

Baca Juga: Surabaya Jadi Percontohan Nasional Program Indonesia-UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

​Reduksi Hulu: Efisiensi Fiskal dan Ekologi
​Mayoritas beban sampah Surabaya bersumber dari limbah domestik organik—sisa pangan, sayuran, dan limbah dapur. Selama ini, sampah ini membebani logistik perkotaan dalam perjalanan panjang dari dapur ke TPS hingga berakhir di TPA. Strategi Eco Composter menawarkan jalan pintas yang cerdas: menyelesaikan masalah di titik nol.

​Secara teknis, penggunaan komposter rumah tangga seperti metode Takakura, biopori, hingga komposter komunal di tingkat RT, diproyeksikan mampu mereduksi beban sampah organik di TPS hingga 40%. Bagi postur anggaran daerah, ini adalah kabar baik. Efisiensi pada rantai logistik (bahan bakar, perawatan armada, dan ritase angkutan) diperkirakan mampu menghemat belanja OPD terkait hingga 20%—25%. Angka ini melampaui capaian 27 rumah kompos saat ini yang telah mampu menghemat biaya operasional hingga Rp6,73 miliar per tahun.

​Digitalisasi dan IoT dalam Ekosistem Maritim
​Menjaga laut bebas sampah memerlukan pengawasan presisi. Integrasi teknologi Internet of Things (IoT) pada program Eco Composter memungkinkan Pemerintah Kota Surabaya memiliki dashboard data yang akurat mengenai volume sampah yang berhasil dikonversi menjadi kompos di tiap kelurahan.

​Melalui sistem poin digital, partisipasi warga bukan lagi sekadar kerja bakti tanpa imbal balik, melainkan aktivitas yang memiliki nilai ekonomi terukur. Data real-time ini penting bagi kota metropolitan pesisir untuk memastikan tidak ada "kebocoran" sampah organik ke saluran air yang bermuara di kawasan lindung seperti Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) atau Teluk Lamong.

Baca Juga: Ternyata, Ini Penyebab Aliran Air di Tambaksari Surabaya Tidak Lancar

​KKMP: Jantung Ekonomi Sirkular
​Integrasi lembaga kemasyarakatan, khususnya Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP), memegang peranan vital dalam menjamin keberlanjutan siklus ini. KKMP harus diposisikan sebagai unit usaha yang menjembatani warga dengan pasar organik. Dengan menyediakan unit komposter murah, membeli hasil kompos warga, dan menyalurkannya kembali untuk kebutuhan urban farming atau industri lanskap, KKMP mengubah sampah menjadi aset ekonomi.

​Pemberdayaan RT/RW, PKK, Karang Taruna, hingga Pokdarwis dalam ekosistem ini menciptakan pertahanan berlapis. Ketika sampah organik selesai di komposter, maka risiko sampah hanyut ke drainase dan mencemari pesisir Kenjeran atau Bulak akan menurun drastis. Ini adalah bentuk nyata dari gerakan "Laut Sehat Bebas Sampah" yang dimulai dari kesadaran di meja makan.

​Pendekatan Hepta Helix: Kolaborasi Tanpa Sekat
​Penyelesaian sampah di kota metropolitan maritim tidak bisa dilakukan secara parsial. Pendekatan Hepta Helix menjadi harga mati:
​Pemerintah: Sebagai regulator kebijakan berbasis insentif.
​Akademisi: Pengembang teknologi komposter yang praktis dan anti-bau.
​Dunia Usaha: Pendukung sarana infrastruktur melalui CSR.
​Komunitas: (RT/RW, PKK, KKMP) Sebagai motor penggerak harian.
​Media: Katalisator opini dan edukasi publik.
​Lembaga Keuangan: Penjamin arus kas ekonomi sirkular.
​Inovator: Penyedia solusi digital dan IoT.

Baca Juga: Masa Depanku Direnggut: Kisah Sedih Gadis Surabaya Dilecehkan sang Pelatih

​Sinergi ketujuh unsur ini akan memastikan bahwa perubahan perilaku warga didukung oleh ekosistem yang mapan, sehingga Eco Composter bukan lagi beban rumah tangga, melainkan gaya hidup baru warga metropolitan.

​Penutup
​Surabaya telah berevolusi dari sekadar kota hijau (Go Green) menjadi kota dengan budaya kampung yang bersih (Green and Clean). Kini, saatnya Surabaya mengukuhkan diri sebagai kota maritim modern yang mandiri dalam pengelolaan sampah melalui Eco Composter.
​Dengan mengintegrasikan teknologi tepat guna, digitalisasi, dan kekuatan kolektif lembaga kemasyarakatan, Surabaya sedang menulis ulang masa depannya: sebuah kota metropolis yang tidak memunggungi lautnya, melainkan menjaganya melalui transformasi budaya dari tingkat rumah tangga. Inilah kontribusi nyata Surabaya bagi kelestarian laut dunia.

Oleh: Ali Yusa (Pengurus PII Jawa Timur | Dewan Pakar IKA ITS Surabaya)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Lagi Asyik Latihan Musik, Motor Pemuda di Mojokerto Dicuri Maling

Sebelum beraksi, pelaku datang dua kali, pertama memantau keadaan dan dua kali motor langsung dibawa kabur.

Antar Penumpang ke Bandara Juanda, Driver Ojol Tewas Tertabrak Mobil

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat berkendara di kawasan bandara yang memiliki lalu lintas kendaraan cukup padat.

DPRD Jatim Jajaki Kerja Sama dengan DPRD St. Petersburg Rusia

Pertemuan ini diharapkan dapat membuka peluang kemajuan ekonomi dan hubungan kelembagaan yang saling menguntungkan ke depannya.

Lewat FDK, AKP Muliati Tekankan Peran Inovasi Jaga Ketahanan Pangan

Diskusi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pemimpin di tingkat daerah untuk mengintegrasikan aspek keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Pertalite Jadi Andalan Warga saat Pertamax Naik, DPRD Surabaya Minta Stok Dijaga

Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri meminta Pertamina dan pengelola SPBU memastikan stok BBM subsidi tetap aman agar tidak terjadi kelangkaan di lapangan.

DPRD Sidoarjo dalami Dugaan Kecurangan Seleksi Direksi Perumda Delta Tirta

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga integritas seleksi sekaligus memastikan tidak ada keraguan di tengah masyarakat.