selalu.id - Surabaya harus segera mengambil langkah untuk mengatasi masalah kemacetan yang dianggap prioritas. Hal ini diungkap oleh Ahli Ilmu Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga (Unair), Purnawan Basundoro.
Seperti diketahui dalam penelitian Global Traffic Scorecard 2021 oleh perusahaan analisis data lalu lintas yang bermarkas di Inggris, Surabaya disebutkan sebagai kota termacet se-Indonesia.
Baca juga: Calon Mahasiswa Wajib Tahu! UNAIR Buka Banyak UKM dan Beasiswa Berlapis
Mengatasi hal ini, Purnawan berpendapat bahwa Pemerintah perlu membatasi penjualan kendaraan pribadi yang diimbangi dengan menyediakan angkutan umum ke seluruh wilayah Surabaya secara merata.
"Jalan-jalan utama di Surabaya harus diperlebar guna mengurai kemacetan,” kata Purnawan, selasa (25/1/2022).
Baca juga: Kejar Target Flyover Taman Pelangi, Pemkot Surabaya Ratakan Sisa Rumah di Jemur Gayungan
Jika solusi itu tidak segera diterapkan, kata dia, mungkin saja kemacetan di Surabya akan semakin meningkat. Apalagi, kemajuan zaman dan kota akan membuat aktivitas masyarakat bertambah.
"Jika tidak berimbang dengan pembatasan kendaraan di jalanan, ya akan semakin macet," kritiknya.
Baca juga: Pudding Toy Toy Karya Mahasiswa Unair Tawarkan Alternatif Makanan Manis Rendah Gula
Purnawan juga menjelaskan, Surabaya tidak bisa serta-merta dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia. Menurutnya perlu ada peninjauan ulang terkait aspek-aspek kemacetan.
"Tidak semua wilayah di Surabaya ini macet. Biasanya kemacetan hanya terjadi pada jam-jam tertentu, misalnya pagi ketika jam berangkat kerja dan sore hari ketika masyarakat banyak yang pulang kerja," pungkas Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) yang sekaligus menjabat sebagai Dekan FIB UNAIR tersebut. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi