selalu.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 24 ribu pasien Covid-19 terkena varian baru yakni BA2.75, XBB dan BQ1 di seluruh wilayah Indonesia. Tercatat pula Kasus paling banyak di Indonesia yakni di daerah Surabaya, Jakarta dan Bali.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebanyak 10 ribu pasien mengalami gejala berat, dan 1.300 orang meninggal akibar varian baru tersebut.
Baca juga: Calon Mahasiswa Wajib Tahu! UNAIR Buka Banyak UKM dan Beasiswa Berlapis
"Itu untuk yang berat saya kaget 40 persen belum vaksin atau 70 persen belum booster. Yang meninggal dari 1.300 itu 50 persen belum vaksin dan 80 persen belum booster,"kata Menkes Budi, usai Launchin MMS di Rektorat Universitas Airlangga (Unair) Rabu (9/11/2022).
Sebab itu, Budi menghimbau kepada seluruh masyarakat harus segera vaksin maupun booster. Menurutnya, vaksin ini sangat mengurangi resiko terkena Covid-19.
"Jadi, yuk yang belum booster cepat booster, yang belum vaksin cepat vaksin. Kalau punya orang tua belum vaksin, paksa vaksin, belum booster, paksa dibooster,"jelasnya.
Baca juga: Kasus Super Flu Meningkat, DPRD Surabaya Minta Masyarakat Tidak Panik
Sehingga, ketika telah divaksin maupun booster. Seorang yang terkena atau tertular, akan mengalami gejala ringan. Sehingga, vaksinasi adalah salah satu cara untuk menyerang varian baru tersebut.
"Karena data kita menunjukkan 80 persen lebih yang meninggal belum di vaksin, dan 80 persen lebih masuk RS dan berat karena belum booster,"jelasnya.
Lebih lanjut Budi menyebut varian Omicron terbagi subvarian atau disebut cucu Omicron yakni ada Omicron BA1 dan BA2 muncul Januari, Omicron BA4, BA5 muncul Agustus dan Omicron BQ1 dan XBB varian terbaru.
Baca juga: Pudding Toy Toy Karya Mahasiswa Unair Tawarkan Alternatif Makanan Manis Rendah Gula
"Kan penyakitnya SarsCov2 ayahnya. Nah, Nah ini Omicron BQ1 dan XBB, jadi cucunya,"jelasnya.
"Gejalanya (varian baru) kalau dibandingkan dengan BA4, BA5 dia lebih cepat masuk RS. Tapi kalau dibanding BA1 lebih rendah,"pungkasnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi