selalu.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa fenomena La Nina masih berlanjut dan menyebabkan kemarau basah.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Juanda Sidoarjo, Teguh Tri Susanto menyampaikan, karena fenomena itu suhu muka laut menjadi lebih hangat di sekitar wilayah Jawa Timur.
Baca juga: Diperiksa Bapenda Surabaya soal Kepatuhan Pajak PBJT, Manajemen RM Ayam Goreng Ny Suharti Bungkam
"Kalau pertanyaan apakah ini kemarau basah, mungkin masyarakat dibebaskan saja dalam memberikan sebutan, yang penting sadar bahwa ada potensi hujan sepanjang tahun ini," kata Teguh, Senin (13/6/2022).
Teguh menegaskan bahwa BMKG memprediksi potensi hujan akan tetap ada sepanjang tahun 2022. Meski begitu kondisi kemarau basah ini karena anomali iklim ini tidak bisa dijadikan patokan akan terjadi selamanya.
"Ini sebagai gambaran umum, untuk penguatannya bisa tetap memantau perkembangan cuaca dalam skala meteorologi (1 harian, 3 harian, 7 harian) di kanal-kanal resmi atau kontak BMKG," jelasnya.
Baca juga: 75 Anak Surabaya Resmi Kantongi Penetapan Perwalian, Hak Pendidikan hingga Kesehatan Terjamin
BMKG juga mengimbau kepada masyarakat terutama yang tinggal di pesisir agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, saat ini suplai uap air di wilayah Indonesia masih banyak, sehingga hujan bakal sering terjadi.
Tak hanya itu, menguapnya Angin Timuran yang dapat menyebabkan angin kencang dan gelombang pasang mengalami peningkatan.
"Karena adanya fenomena supermoon atau perigee, yang mana bulan berada pada posisi dekat dengan bumi,"jelasnya.
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Dishub Garap Iklan di 69 Halte untuk Dongkrak PAD
Fenomena supermoon ini akan menyebabkan banjir pasang yang akan lebih intensif terjadi.
"Prediksi kami terjadi mulai dari pertengahan sampai akhir Juni, juga akan terjadi pada pertengahan Juli," katanya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi