selalu.id – Tangan keriput itu bergerak pelan. Satu per satu lauk diambil dari balik etalase kaca, ditata di atas piring seng. Dimulai dari nasi jagung hangat sebagai menu utama. Lalu ditambah kulup daun singkong, srundeng kelapa, dan ditutup taburan rempeyek ikan.
Itulah ritual setiap hari yang dilakukan Suci, 80 tahun. Lansia asal Desa Karangkedawung, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto itu sudah 4 dekade berjualan nasi jagung dari rumahnya sendiri.
Baca juga: Polisi Bongkar Pabrik Oli Palsu Beromzet Rp260 Juta di Mojokerto, Ini Mereknya
Warung kecilnya tak pernah sepi. Bukan karena tempatnya mewah. Tapi karena harganya dan porsinya yang bikin orang menyebutnya "porsi kuli".
Dengan uang Rp4.000, pembeli sudah bisa makan sepiring penuh. Harga itu baru naik kurang dari sebulan lalu. Sebelumnya Rp3.000. Dan jauh sebelumnya, di awal ia jualan, hanya Rp2.000. Harga gorengan juga ikut naik jadi Rp1.000 dari sebelumnya Rp500.
”Yang beli dari beberapa wilayah di Mojokerto. Tadi ada juga yang bilang dari Kediri,” ungkap Suci saat ditemui di warung sekaligus rumahnya di Desa Karangkedawung, Sooko, Kabupaten Mojokerto Minggu (8/11/2026).
Dengan Rp4.000 itu, pembeli bebas meracik. Mau nasi jagung dengan kulup daun singkong dan rempeyek ikan boleh. Mau diganti sayur lodeh juga silakan.
Baca juga: Sindikat Scamming Internasional Dibongkar di Mojokerto, 23 WNA Diimingi Gaji 1000 US Dolar
”Tapi orang-orang kadang pada ambil sendiri. Yawes terserahlah. Jadinya dicampur. Harganya tetap Rp 4000,” kelakar Suci.
Kenaikan harga itu terpaksa ia lakukan. Semua bahan pokok ikut naik. Tapi ia tak tega menaikkan terlalu tinggi. Baginya, yang penting dapur tetap ngebul dan bisa menghidupi diri serta 2 orang putranya. Saking murahnya, ia sering digoda pembeli.
”Orang-orang pada bilang, jualan apa shodaqoh. Tidak ada alasannya, pokoknya Rp 4.000 itu gitu aja. Yang penting bisa cukup untuk makan, untuk perputaran yang lain semuanya. Tidak sampai nyari hutangan,” pungkas Suci.
Baca juga: Sukses Tekan Kasus Penyakit Menular, Wali Kota Mojokerto Ning Ita Sabet ATM Award 2026
Suci tak pernah menghitung berapa porsi yang laku setiap hari. Ia hanya tahu warungnya harus buka. Dari pukul 06.00 WIB pagi sampai usai maghrib, nasi jagung itu harus siap disajikan.
Bagi warga Sooko dan sekitarnya, nasi jagung Mbah Suci bukan sekadar makanan murah. Ia adalah bukti, di tengah harga serba naik, masih ada orang yang memilih bertahan dengan hati.
Editor : Achmad Supriyadi