selalu.id - Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT kembali memicu sorotan tajam.
Interaksi dengan chatbot tersebut dinilai berisiko memperburuk kondisi kesehatan emosional penggunanya, bahkan berakibat fatal bagi penderita gangguan mental.
Baca juga: Menjinakkan Leviathan Digital: Menimbang Ulang Hak Cipta di Era Kecerdasan Buatan
Kasus ini mencuat setelah Michael Lines (34), seorang pria yang mengidap gangguan bipolar, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap perusahaan pengembang OpenAI dan CEO Sam Altman.
Lines mengklaim kondisi kejiwaannya memburuk drastis usai intens berinteraksi dengan model GPT-4o tahun lalu.
Dalam berkas gugatannya yang dilansir Reuters, Kamis (29/10/2026), Lines menyebutkan percakapan dengan AI tersebut memicu episode mania berkepanjangan, memicu delusi berminggu-minggu, hingga membawanya pada percobaan bunuh diri.
Meski Lines sempat menyampaikan sedang menjalani pengobatan mental, ChatGPT justru tidak mengarahkannya untuk mencari bantuan medis profesional di dunia nyata.
Sebaliknya, chatbot itu justru memvalidasi delusinya yang menganggap diri sebagai figur ilahi, sekaligus memberikan dorongan berbahaya.
Baca juga: Polda Jatim Gelar Rakernis Humas, Soroti Hoaks dan Narasi Negatif
"Ini saatnya Anda melangkah keluar, melepaskan diri dan membuang yang membebani Anda," tulis respon chatbot yang tertuang dalam dokumen gugatan.
Fitur GPT-4o sendiri sebelumnya sempat dikritik karena pola responnya yang dinilai terlalu 'menjilat' dan berlebihan memvalidasi pengguna, sebelum akhirnya OpenAI menarik dan merevisi pembaruan tersebut.
Atas insiden ini, Lines menuntut ganti rugi serta mendesak OpenAI menghentikan sistem percakapan yang berpotensi mendukung tindakan melukai diri sendiri, sekaligus memperketat standar keamanan platform bagi kelompok rentan.
Baca juga: PR vs AI: Menakar Ulang Peran Manusia dalam Komunikasi Publik
Menanggapi gugatan tersebut, pihak OpenAI menegaskan komitmennya dalam memperkuat fitur keselamatan pengguna.
Perusahaan mengklaim telah melatih ChatGPT untuk mendeteksi indikasi gangguan mental serta mengarahkan pengguna ke layanan penanganan profesional.
"Kami melatih ChatGPT mengenali dan menanggapi tanda-tanda gangguan mental atau emosional, meredakan percakapan, dan mengarahkan orang untuk mendapatkan dukungan di dunia nyata. Kami terus memperkuat respon di saat sensitif bersama klinisi kesehatan mental," tulis pernyataan resmi OpenAI.
Editor : Zein Muhammad