selalu.id - Di balik padatnya kawasan Mojoklanggru Lor Gang Irak, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, sebuah rumah warisan tampak berdiri di celah gang sempit.
Di hunian sederhana beratap dua kamar inilah Tifa, seorang siswi kelas X SMKN 5 Surabaya, merajut masa depannya di tengah impitan ekonomi keluarga.
Baca juga: DPRD Surabaya Pertanyakan Ratusan Miliar Anggaran Kecamatan Masuk Pos Pendidikan
Setiap pagi, Tifa bersiap berangkat sekolah dengan balapan waktu dan keterbatasan. Baju seragam yang melekat di tubuhnya bukanlah barang baru gres dari toko, melainkan pakaian bekas peninggalan sang kakak yang diwariskan kepadanya.
Bagi keluarga Tifa, membeli perlengkapan sekolah baru adalah kemewahan yang belum sanggup dijangkau.
Realita hidup keluarga Tifa memang jauh dari kata cukup. Ayahnya bekerja keras sebagai sopir pribadi selama delapan jam sehari, enam hari dalam sepekan.
Namun, peluh yang dicurahkannya setiap hari hanya menghasilkan pendapatan sekitar separuh dari standar Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya.
Demi menopang dapur agar tetap ngebul, sang ibu turut membanting tulang bekerja serabutan di tempat cuci pakaian. Upahnya tak seberapa, sekitar Rp60 ribu per hari, itu pun sudah termasuk uang makan.
"Kalau ibunya Tifa sakit atau ada keperluan sehingga tidak masuk kerja, ya otomatis hari itu uang bayaran hariannya hangus," tutur Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, Senin (21/9/2026).
Kondisi dalam rumah pun menggambarkan betapa berjejalnya kehidupan mereka. Rumah kecil itu harus menampung lima jiwa. Satu kamar berukuran terbatas diisi oleh ayah, ibu, Tifa, dan salah satu kakaknya.
Baca juga: DPRD Surabaya Sentil Kinerja Pemkot: Jangan Cuma Bersandar Capaian Anggaran!
Sementara itu, kakak laki-laki Tifa terpaksa mengalah dan menjadikan ruang tamu sebagai tempatnya melepas lelah setiap malam.
Namun, di atas kertas administrasi negara, potret kemiskinan itu seolah tak berbekas. Keluarga Tifa justru tercatat masuk dalam kelompok desil 6–10, sebuah kategori yang menandakan keluarga berstatus ekonomi mampu dan sejahtera.
Data inilah yang membuat Tifa dan keluarganya kerap luput dari jangkauan program bantuan sosial pemerintah.
Potret ironis ini terungkap saat Imam Syafi’i melakukan silaturahmi ke kediaman Tifa. Melihat kondisi riil di lapangan yang bertolak belakang dengan data di atas kertas.
Baca juga: Polemik Jam Operasional Pasar Tanjungsari, DPRD Surabaya: Kalau Perlu Perdanya Diubah!
Imam menilai perlunya pemutakhiran data penerima program sosial agar lebih akurat dan tepat sasaran.
Guna meringankan beban Tifa, bantuan perorangan berupa seragam olahraga dan atribut sekolah baru akhirnya diserahkan.
Rasa syukur pun terpancar dari wajah keluarga Tifa, termasuk sang kakak, Naila, yang selama ini rela membagi pakaian bekasnya untuk adik tercinta.
"Sebelumnya seragamnya memang pakai punya bekas saya. Alhamdulillah, sekarang dapat bantuan untuk adik," ungkapnya penuh haru.
Editor : Zein Muhammad