Berani Lepas Karier ASN, Perempuan Asal Sidoarjo Ini Sukses Kembangkan Batik Lokal

Reporter : Ariyanto
Kreasi Nila menghadirkan batik khas Sidoarjo hingga motif umum sesuai selera pelanggan.

selalu.id - Keberanian meninggalkan zona nyaman sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi titik awal perjalanan seorang perajin batik asal Porong, Sidoarjo, dalam membangun usaha yang kini mampu menjangkau pasar nasional hingga mancanegara.

Berbekal ketekunan, jaringan komunitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal, usaha batik bernama Kreasi Nila yang dirintis Dyah Retno Nilawati sejak 2017 tersebut berkembang menjadi salah satu produk unggulan daerah.

Baca juga: Harkopnas 79 di Sidoarjo jadi Ajang Konsolidasi Anggota Koperasi

Saat ini, hasil karya batiknya telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai Jakarta, Kalimantan Barat, Balikpapan, Sulawesi Utara, Lamongan, Tuban, Gresik, hingga Probolinggo. Bahkan, sejumlah produk batiknya turut menembus pasar luar negeri melalui jaringan galeri dan mitra usaha di Korea Selatan, Singapura, serta Malaysia.

Sebelum menekuni dunia batik, Dyah menghabiskan 17 tahun bekerja sebagai tenaga administrasi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Pasuruan. Namun pada akhir 2016, ia memilih mengundurkan diri untuk mendampingi suami yang saat itu tengah merintis usaha keluarga.

“Sebagai perempuan, saya ingin lebih mendampingi suami dan membantu mengembangkan usaha yang saat itu sedang dirintis,” ujarnya.

Ketertarikannya pada dunia batik berakar dari lingkungan keluarga. Neneknya yang berasal dari Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, dikenal sebagai pembatik sarung. Meski tidak sempat belajar langsung, kecintaannya terhadap seni membatik terus tumbuh hingga mendorongnya mengembangkan usaha sendiri.

Dyah juga melibatkan anak didiknya dalam produksi batik sebagai bekal keterampilan. 

Melihat belum adanya sentra batik yang berkembang di wilayah Porong, ia kemudian menghadirkan batik khas Sidoarjo dengan karakter berbeda dari batik Jetis yang lebih dahulu dikenal masyarakat. Untuk menguasai teknik membatik, Dyah belajar secara otodidak dan berguru kepada tujuh perajin dari Pasuruan, Purwosari, Pacet, hingga Nganjuk.

Perjalanan usahanya dimulai pada 2017. Pesanan pertama datang dari seorang dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang memesan lima lembar kain batik setelah melihat hasil karyanya di media sosial. Dari situlah produk Kreasi Nila mulai dikenal lebih luas melalui promosi dari mulut ke mulut.

Perkembangan usaha semakin terlihat setelah ia bergabung dengan komunitas UMKM Porong. Melalui wadah tersebut, ia mendapatkan akses pembinaan dan berbagai program pengembangan usaha. Salah satu pencapaian penting diraih pada 2022 saat mengikuti program kurasi UMKM yang diselenggarakan Kimia Farma. Dari sekitar 15 ribu peserta UMKM se-Indonesia, Kreasi Nila berhasil masuk 35 besar nasional dan menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Sidoarjo yang lolos.

Baca juga: Polresta Sidoarjo Borong Penghargaan Nasional, Berikut Rinciannya

“Dari Jawa Timur hanya tiga UMKM yang lolos, yakni dari Jember, Malang, dan Sidoarjo,” katanya.

Program tersebut memberikan pendampingan bisnis selama tiga bulan, pelatihan pengelolaan usaha, hingga akses permodalan yang membantu memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan profesionalisme usaha.

Selain sebagai pelaku UMKM, Dyah juga aktif sebagai guru di SLBN Juwet Kenongo. Aktivitasnya sebagai pendidik berjalan beriringan dengan usaha yang dirintisnya dari rumah. Rumah usaha Kreasi Nila bahkan dimanfaatkan sebagai tempat les privat bagi anak-anak didiknya.

“Anak-anak yang belajar dengan saya tidak hanya mendapatkan materi pelajaran, tetapi juga saya kenalkan dengan keterampilan yang bisa menjadi bekal mereka di masa depan,” ujarnya.

Perannya sebagai guru turut memengaruhi konsep pemberdayaan yang diterapkan dalam usaha tersebut. Sejumlah anak didiknya dilibatkan dalam berbagai aktivitas usaha sesuai kemampuan masing-masing. Tidak hanya memberikan pelatihan dan pengalaman kerja, Dyah juga memberikan gaji kepada anak-anak didiknya yang ikut membantu kegiatan usaha.

Baca juga: Sidoarjo Sandang Status Kabupaten STBM 5 Pilar, Jadi yang ke-5 di Jawa Timur

“Saya ingin mereka merasa dihargai atas hasil kerjanya. Karena itu, ketika membantu proses produksi atau kegiatan usaha, mereka juga mendapatkan gaji sesuai kemampuan dan kontribusinya,” tuturnya.

Komitmen sosial tersebut melengkapi kiprahnya dalam memberdayakan ibu tunggal, penyandang disabilitas, dan pelajar melalui pelatihan maupun kegiatan produksi batik. Saat ini, pemasaran produk dilakukan melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, pameran UMKM, hingga lapak Car Free Day (CFD). Produknya juga dipercaya menjadi salah satu penyedia batik seragam haji Kabupaten Sidoarjo selama tiga tahun berturut-turut.

Ke depan, Dyah berharap pemerintah dapat menghadirkan galeri bersama bagi pelaku UMKM agar produk lokal memiliki ruang promosi yang lebih luas.

“Harapan kami ada galeri bersama untuk UMKM. Dengan begitu, pelaku usaha yang baru berkembang juga memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal masyarakat,” tuturnya.

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru