Mengenal Syaifuddin Zuhri: Dari Pecinta Otomotif, Kini Pimpin DPRD Surabaya

Reporter : Ade Resty
Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri saat off-road dengan motor trailnya. (Dok. Instagram @syaifuddinzuhri).

selalu.id - Syaifuddin Zuhri baru saja dilantik menjadi Ketua DPRD Surabaya menggantikan almarhum Adi Sutarwijono.

Politikus yang akrab disapa Kaji Ipuk ini bukan orang baru. Ia masuk dalam jajaran senior PDI Perjuangan.

Baca juga: Gebrakan DPRD Surabaya Selesaikan Konflik Pengelolaan Apartemen, Pengembang Jangan Main-main

Lantas, bagaimana awal karier Kaji Ipuk?

Awal Karier

Perjalanan Kaji Ipuk di dunia politik dimulai dari bawah. Ia aktif sebagai kader ranting di wilayah Pakal saat PDI masih bernama Partai Demokrasi Indonesia.

Kala itu, partai bertransformasi menjadi PDI Perjuangan pada 1999. Namanya mulai masuk struktur partai sebagai Wakil Ketua PAC Benowo.

Setelah pemekaran wilayah, Kaji Ipuk dipercaya memimpin PAC Pakal pada periode 2000-2004. Saat itu, ia mengaku belum pernah membayangkan akan menjadi anggota dewan.

“Saya dulu hanya senang berjuang dan bergerak bersama masyarakat. Tidak pernah punya mimpi jadi anggota DPRD,” ungkapnya kepada selalu.id, Jumat (8/5/2026).

Langkah politiknya mulai naik saat Pemilu 2009. Ia terpilih sebagai anggota DPRD Surabaya dan langsung dipercaya menjabat Ketua Fraksi PDIP.

Lima tahun berselang, pada Pemilu 2014, ia kembali terpilih dengan raihan suara besar dan mendapat penghargaan sebagai caleg dengan suara tertinggi di Jawa Timur.

Di periode itu, Kaji Ipuk juga dipercaya menjadi Sekretaris DPC PDIP Surabaya, Ketua Komisi C DPRD, serta Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK di Surabaya pada Pilpres 2014.

Karier politiknya terus berlanjut pada Pemilu 2019. Ia kembali duduk di kursi DPRD Surabaya dan menjabat Ketua Fraksi PDIP.

Hingga akhirnya, empat periode berada di parlemen mengantarkannya menjadi Ketua DPRD Surabaya.

Bagi Kaji Ipuk, politik bukan soal jabatan, tetapi pengabdian. Ia menilai tugas utama wakil rakyat adalah menyerap aspirasi dan memastikan kebijakan pemerintah berpihak kepada masyarakat.

Baca juga: Ketika PLN Seenaknya Sendiri saat Pemadaman Listrik di Surabaya, Dishub Aja Dicuekin

“DPRD itu tugasnya legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Tapi intinya tetap satu, memperjuangkan kepentingan rakyat,” jelasnya.

Di luar dunia politik, pria kelahiran Surabaya 12 April 1972 ini punya sisi lain yang tak banyak diketahui publik.

Pecinta Otomotif

Kaji Ipuk sejatinya dulu hatinya ada pada dunia otomotif. Kecintaannya pada motor sudah tumbuh sejak bangku SMP dan terus bertahan hingga sekarang.

Motor legendaris Yamaha RX-King menjadi salah satu favoritnya. Selain itu, ia juga menyukai motor trail, off-road, dan touring jarak jauh bersama komunitas.

“Saya suka otomotif sejak SMP. Sampai sekarang masih senang. Touring itu bukan hanya hobi, tapi kebersamaan,” kata politikus berusia 55 tahun itu.

Menurut Kaji Ipuk, touring mengajarkan solidaritas. Dalam perjalanan, setiap anggota komunitas harus saling menjaga, menunggu yang tertinggal, dan membantu bila ada kendala di jalan.

Baca juga: Insiden Lampu Lalulintas Mati di Surabaya, DPRD Minta Audit Seluruh Panel Surya

“Kalau ada teman rusak motornya, ya dibantu. Kalau ada yang tertinggal, ditunggu. Itu mengajarkan gotong royong,” paparnya.

Kaji Ipuk bahkan pernah mengalami kecelakaan saat off-road di kawasan Pandaan. Meski demikian, kecintaannya pada otomotif tidak pernah luntur.

Ia juga menaruh perhatian pada anak muda yang gemar otomotif. Kaji Ipuk mendorong adanya fasilitas balap atau arena khusus agar bakat generasi muda bisa tersalurkan tanpa membahayakan pengguna jalan.

Dunia otomotif bisa menjadi ruang positif jika diarahkan dengan benar, sekaligus membangun disiplin dan mental kompetitif.

Di tengah kesibukan politik dan hobinya, Kaji Ipuk tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas. Ayah dua anak ini, kini juga telah memiliki satu cucu.

Kaji Ipuk mengaku perjalanan politik membuatnya sering kehilangan momen tumbuh kembang anak. Karena itu, keluarga menjadi tempat ia kembali mengambil energi setelah aktivitas publik.

“Kalau sudah matang, kebahagiaan itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi ketika bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru