Selasa, 11 Agu 2026 19:06 WIB

Catatan Khusus Ahmad Dhani Tentang Tiga Dekade Kota Surabaya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 11 Agu 2026 18:07 WIB
Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyosaat kunjungi Kantor DPRD Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).
Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyosaat kunjungi Kantor DPRD Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyo menilai perkembangan Kota Surabaya dalam tiga dekade terakhir sangat signifikan. 

Namun, ia mengingatkan pembangunan kota tidak boleh hanya mengejar kemajuan fisik tanpa memperhatikan seni, musik, dan kebudayaan.

Baca Juga: Bukan Sekedar Kompetisi, Midtown Indonesia Satukan Perhotelan Surabaya Lewat Bulu Tangkis

Hal itu disampaikan Ahmad Dhani saat mengunjungi Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (11/8/2026). 

Dalam kunjungan tersebut, ia melihat karya-karya dalam Lomba Fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) Indonesia sekaligus menjadi narasumber dalam agenda bincang santai.

Dhani, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia telah melihat perubahan Surabaya sejak awal 1990-an. 

Menurutnya, perkembangan kawasan perkotaan membuat wajah Surabaya kini jauh berbeda dibandingkan tiga dekade lalu.

“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujarnya.

Musisi legendaris ini mengatakan perubahan Surabaya tidak hanya terlihat dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari perubahan citra kota. 

Surabaya kini dinilai memiliki identitas yang semakin kuat sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia.

“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” ungkapnya.

Dhani juga menilai karakter khas masyarakat Surabaya, termasuk budaya dan logatnya, justru menjadi bagian dari daya tarik kota.

Ia kemudian menceritakan perubahan pandangan terhadap karakter perempuan Surabaya yang menggunakan logat Jawa. Pernyataan tersebut disambut tawa peserta bincang santai.

“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” katanya.

Baca Juga: Soekarno Cup 2026 Resmi Bergulir di Surabaya, Wadah Pemersatu Talenta Muda Sepak Bola

Dalam kesempatan tersebut, Dhani juga mengapresiasi sejumlah kepala daerah yang pernah memimpin Surabaya. Menurutnya, setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi terhadap perkembangan kota.

Ia secara khusus menyinggung era Tri Rismaharini. Dhani menilai perubahan lingkungan perkotaan Surabaya pada masa tersebut cukup terasa.

“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” jelasnya.

Menurut Dhani, kesan positif terhadap Surabaya juga dirasakan sejumlah rekannya yang baru pertama kali datang ke kota tersebut.

“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, ‘Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya’,” tuturnya.

Meski mengapresiasi perkembangan tersebut, Dhani mengingatkan agar pembangunan Surabaya tidak mengesampingkan ekosistem seni dan budaya.

Ia meminta ruang bagi seniman, musisi, dan anak muda tetap dipertahankan di tengah pesatnya pembangunan kota.

Baca Juga: Jawa Barat Tekuk Tuan Rumah Jatim 4-1 di Laga Pembuka Soekarno Cup U-17

“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.

Dhani juga menilai karakter masyarakat Surabaya yang terbuka dalam menyampaikan kritik menjadi modal penting untuk mengawal pembangunan.

“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujarnya.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Dhani melihat perkembangan Surabaya, dari dunia musik hingga politik nasional.

Ia menyebut keberanian mengambil keputusan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Saya dari Surabaya, bermain musik di Jakarta, itu sudah sesuatu yang nekat. Kemudian masuk ke bidang politik juga nekat,” pungkas suami dari Mulan Jamila tersebut.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

SMPN 7 Jember Direvitalisasi, Fasilitas Belajar Diperkuat hingga GOR untuk Pembinaan Atlet

Pembaruan sarana itu diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman sekaligus menunjang proses pembelajaran siswa.

Bobroknya Pengelolaan Rusunawa Pucang Sidoarjo di Balik Pendapatan Miliaran

Wabup Sidoarjo Mimik menilai kondisi tersebut perlu segera dibenahi karena penghuni telah memenuhi kewajibannya dengan membayar sewa setiap bulan.

DPRD-Pemkab Pasuruan Sepakati KUA-PPAS 2027, APBD Segera Masuk Tahap Penyusunan

Kesepakatan ini sekaligus menjadi salah satu tahapan penting dalam menentukan arah penggunaan anggaran daerah.

Sederet Komitmen Pemkab Jember Dukung Pengembangan Generasi Muda Lewat Gerakan Pramuka

Pemkab memastikan seluruh Kontingen Cabang Jember yang akan mengikuti Jamnas XII Tahun 2026 di Cibubur, Jakarta, mendapat dukungan pembiayaan penuh.

Wakil Ketua DPRD Jatim Digugat soal Dugaan Ijazah Palsu, Kuasa Hukum: Sarat Muatan Politik!

Arifin menjelaskan, gugatan yang diajukan sebagai gugatan warga negara (citizen lawsuit) tidak memenuhi syarat esensinya. 

Wakil Ketua DPRD Jatim dan Anggota DPRD Bojonegoro Absen di Sidang Perdana Kasus Dugaan Ijazah Palsu

Dalam perkara dugaan ijazah palsu tersebut secara tidak langsung menyeret nama kakak (Sukur Priyanto) dan adik (Sri Wahyuni) di 'meja hijau' sebagai tergugat.