DPRD Surabaya Minta Kaji Ulang Proyek Strategis Pemkot yang Gunakan Dana Pinjaman

Reporter : Ade Resty
Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni. (Foto: Ade/Selalu.id).

selalu.id - Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni menyoroti rencana pembiayaan alternatif tahap II yang akan ditempuh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Menurutnya, skema pinjaman daerah tersebut harus benar-benar diarahkan untuk proyek strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kota.

Baca juga: Ketika PLN Seenaknya Sendiri saat Pemadaman Listrik di Surabaya, Dishub Aja Dicuekin

Fathoni menjelaskan, plafon pembiayaan yang sebelumnya dibahas bersama Badan Anggaran mencapai Rp1,2 triliun.

Dari jumlah itu, realisasi tahap awal melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sekitar Rp885 miliar untuk dua proyek.

Selain itu, pembiayaan dari Bank Jatim juga mencapai sekitar Rp400 miliar.

“Yang di PT SMI itu waktu rapat dengan Badan Anggaran plafonnya Rp1,2 triliun. Yang kemarin baru sekitar Rp800 miliar lebih untuk dua proyek,” sebut Fathoni, Kamis (7/5/2026).

Ia menyatakan bahwa DPRD memahami diskursus yang berkembang di tengah masyarakat terkait kebijakan utang daerah. Masukan datang dari kalangan akademisi hingga mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Karena itu, DPRD meminta Pemkot melakukan kajian menyeluruh sebelum masuk ke tahap berikutnya, baik dari sisi hukum maupun studi kelayakan proyek.

“Kami mendorong Pemkot agar proyek-proyek strategis yang dibiayai pembiayaan alternatif ini benar-benar menjadi trigger pertumbuhan ekonomi,” jelas Fathoni.

Menurutnya, sebagian besar dana pinjaman PT SMI digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan baru.

Baca juga: Pemkot Surabaya Raih Penghargaan RTLH Tertinggi se-Jatim, Siap Tuntaskan pada 2027

Di antaranya jalur Wiyung-Menganti dan akses penghubung Karangpilang menuju wilayah perbatasan Surabaya-Sidoarjo.

Selain itu, proyek juga mencakup penerangan jalan umum yang dinilai penting untuk menunjang aktivitas ekonomi di kawasan baru.

Fathoni mencontohkan perkembangan kawasan Jalan Merr yang sebelumnya didominasi lahan rawa dan sawah.

Setelah dibangun jalan, kawasan tersebut kini berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan banyaknya usaha yang bermunculan.

“Dulu kawasan Merr itu rawa dan sawah. Begitu dibangun jalan, sekarang menjadi magnet pertumbuhan ekonomi baru,” tegasnya.

Baca juga: Ketika Kota DIbangun untuk Beton, Bukan untuk Air

Fathoni juga menilai persoalan utama kota besar seperti Surabaya saat ini adalah banjir dan kemacetan.

Karena itu, pembangunan jalan baru, pelebaran jalan, hingga penguatan sistem drainase dinilai mendesak.

“Kalau banjir, pemerintah kota harus terus berinovasi agar aliran air hujan cepat menuju sungai dan laut, sehingga tidak menggenangi wilayah Surabaya,” tandasnya.

Fathoni berharap seluruh proyek yang dibiayai melalui pinjaman daerah tidak berhenti pada dokumen kajian, tetapi benar-benar terealisasi dan memberi manfaat nyata bagi warga Surabaya.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru