Komentari Debat Cawapres, Ketua Golkar Surabaya: Belimbing Sayur Itu Muncul dengan Gagasan Konkret
- Penulis : Arif Ardianto
- | Minggu, 24 Des 2023 15:14 WIB
selalu.id - Ketua Golkar Surabaya, Arif Fathoni angkat bicara soal julukan belimbing sayur yang ditujukan pada Cawapres Gibran Rakabuming Raka lantaran tidak memiliki kompetensi dan hanya sebagai pelengkap saja. Komentar Arif Fathoni ini dilontarkan merujuk pada hasil debat Cawapres beberapa waktu lalu
"Sedari awal sudah meremehkan kompetensi pemimpin muda, padahal munculnya pemimpin pemimpin muda di era saat ini adalah keniscayaan, setelah dalam debat ternyata anak muda yang dijuluki Blimbing Sayur itu muncul dengan gagasan kongkret, pengetahuan tentang praktek bernegara di era kekinian, ditengah isu perubahan iklim, ditengah percaturan geopolitik global lalu dimunculkan isu dapat contekan melalui clip on dan lain sebagainya," ujar politisi muda yang karib disapa Toni tersebut.
Baca Juga: Jelang Ramadan, Warga Gununganyar Lor Surabaya Gelar Ziarah Wali 5
Menurut Toni, anak muda memiliki semangat belajar yang tinggi serta didukung dengan rasa ingin tahu yang tinggi pula.
"Anak muda mau belajar, karena didalam dirinya masih melekat rasa ingin tahu berlebihan ( Quriositas), sementara generasi lain sudah merasa lebih pintar sehingga enggan belajar situasi atau tantangan bernegara di era kekinian, makanya dalam debat kemarin pemimpin muda yang digambarkan pribadi yang tidak tahu apa apa itu belajar dengan baik, menyerap masukan berbagai pihak dengan seksama, sehingga ketika tampil dalam panggung penuh dengan kematangan dan kemampuan, hal ini tentu mengecewakan bagi pihak yang sedari awal tidak suka atas munculnya yang bersangkutan dalam pentas politik nasional, tapi bagi anak muda se Indonesia tentu peristiwa debat kemarin memunculkan harapan dan kepercayaan diri yang cukup, bahwa anak muda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk mengelola Republik ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang pasti pemimpin muda memiliki kecepatan dalam mengambil keputusan, artikulatif dalam menyampaikan gagasan," terangnya.
Toni yang secara kepartaian wajib mendukung pasangan Prabowo-Gibran ini memberikan pandangan bahwa putra sulung Presiden Jokowi tersebut dapat menjelaskan program-programnya dengan baik.
"Dalam hal penyampaian program makan siang gratis untuk siswa siswi sekolah se Indonesia, anak muda yang dianggap belimbing sayur ini dapat menjelaskan secara ringkas dan jelas, program ini bukan sekedar makan siang, namun program ini adalah investasi negara terhadap sumber daya manusia ( SDM) dimasa mendatang, anggaran 400 T setahun untuk program ini akan menghidupkan bisnis catering se Indonesia, akan ada banyak multiplayer effect ekonomi yang berjalan, mulai dari terserapnya tenaga kerja, hingga arus distribusi bahan mentah dalam bisnis tersebut.tentu bagi para pihak yang membencinya akan disematkan bahwa ini program akan menghapus bantuan operasional sekolah ( BOS) yang selama ini sudah berjalan secara reguler, namanya pembenci akan melihat sesuatu dari sudut pandang sempit, pembenci tidak bisa menerima kebaikan, jadi biarkan saja," jelasnya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Anggarkan Rp 5 Juta per RW, Arif Fathoni: Investasi SDM untuk Tangkal Hoaks
Termasuk soal Ibu Kota Negara( IKN), menurut Toni, pemimpin muda yang dilabeli bocil ( bocah cilik) ini ternyata melihat pembangunan Ibu Kota Negara ( IKN) tidak sekedar sebagai upaya membangun kota baru seperti calon pemimpin lainnya. Gibran disebut dapat melihat pembangunan IKN adalah transformasi arah pembangunan Indonesia, dari Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris.
"Bukankah komitmen bernegara kita adalah mengamalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoenesia adalah keharusan yang harus dilakukan, Indonesia emas 2045 harus dipersiapkan mulai dari sekarang, jika tidak dipersiapkan dengan baik maka kita susah naik dari negara berkembang ke negara maju di 2045 mendatan. Makanya IKN dan hilirasi minerba dan hilirasasi industri lainnya merupakan upaya persiapan Indonesia emas tersebut, kalau yang menolak ya tidak mau Indonesia menjadi Negara maju di 2045 mendatang," tegasnya.
Toni juga sedikit menyentil upaya yang disebutnya hoaks terkait tudinga. Adanya contekan dan penggunaan teknologi dimana disebutkan Gibran didekte melalui alat komunikasi yang tidak terlihat.
Baca Juga: Lindungi Predikat Kota Layak Anak, DPRD Surabaya Desak Izin Black Owl Dicabut
"Setelah narasi soal contekan dan bocoran dalam clip on gagal mempengaruhi pola pikir publik sekarang dimunculkan soal pembayar pajak dengan istilah kebun binatang, padahal istilah itu lazim digunakan oleh kantor pajak sejak tax amnesty kurun waktu 2008 an yang lalu, yang dimaksud berburu dalam kebun binatang itu adalah istilah kemudahan dalam menarik pajak, makanya diperlukan inovasi dan pembukaan industri industri baru, agar pengusaha bisa memperluas sektor industri, rakyat bisa bekerja sehingga berkorelasi dengan meningkatkan pemasukan terhadap Negara," jelasnya
"Jadi berburu dalam kebun binatang jangan diartikan secara harfiah, itu hanyalah istilah sama seperti anak muda yang sedang bercinta, belahlah dadaku kalau tidak percaya ketulusan cinta, masak tega dadanya dibelah, jadi kepada pihak yang skeptis terhadap munculnya pemimpin muda, kalau mau memframing kelemahan Mas Gibran, carilah isu yang lebih menarik, jangan isu recehan untuk menutupi trend penurunan elektabilitas paslonnya," kritiknya
"Sebagai Parpol yang pertama kali mengusung Mas Gibran Rakabuming Raka sebagai pendamping Prabowo Subianto, kader Partai Golkar tentu bangga telah memberikan kesempatan anak muda yang tampil ke panggung politik nasional dengan kepiawaian kepemimpinan ciri khas anak muda, sehingga mampu menyempurnakan kepemimpinan Dwi Tunggal.Anak muda yang dicerca sebagai anak haram konstitusi, belimbing sayur, samsul ini ternyata membawa harapan besar jutaan anak muda diluar sana, bahwa saat ini eranya yang muda yang berkarya," pungkasnya.
Editor : Redaksi