Festival Gamelan Kahuripan 2026, Siswa Sidoarjo Jadi Garda Pelestarian Karawitan
- Penulis : Ariyanto
- | Sabtu, 26 Sep 2026 18:06 WIB
selalu.id - Sebanyak 33 kelompok seni tampil dalam Festival Gamelan Kahuripan 2026 pada Sabtu (26/9/2026). Ajang tahunan keempat ini mempertemukan kelompok pelajar dan umum dalam satu panggung budaya Jawa.
Festival yang digagas Pemkab Sidoarjo bersama Dewan Kesenian Sidoarjo itu mengangkat tema “Gamelan untuk Meditasi, Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa”.
Baca Juga: Progres RSUD Sedati Lampaui Target, Wabup Sidoarjo Wanti-wanti soal Kualitas Material
Jumlah peserta terus naik tiap tahun. Saat pertama kali digelar 2023 di Pondok Asofa hanya ada 8 kelompok, semuanya dari pelajar. Tahun 2024 bertambah menjadi 16 kelompok di SMK 10 November. Pada 2025 di lokasi yang sama ada 23 kelompok. Kini 2026 mencapai 33 kelompok dari pelajar dan masyarakat umum.
Mayoritas penampil tahun ini berasal dari sekolah. Jenjang SMP menjadi penyumbang peserta terbanyak.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo, Ridho Prasetyo, menyebut karawitan di sekolah masih berstatus ekstrakurikuler.
“Ya, ini benar-benar masih ekstrakurikuler, bukan kewajiban,” kata Ridho.
Namun ia melihat ada pergeseran. Beberapa sekolah sudah menyediakan ruang khusus berupa kelas kesenian.
“Kalau di sekolah-sekolah, ada beberapa yang sudah memiliki kelas kesenian,” ujarnya.
Ridho menilai peningkatan jumlah peserta menunjukkan animo siswa terhadap seni tradisional masih kuat. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan agar semangat itu tidak padam di tengah jalan.
“Ya, senang juga. Teman-teman ini kalau tidak didampingi sampai selesai, semangatnya kurang. Di event ini saya berupaya untuk mendampingi sampai selesai,” tutur Ridho.
Ia juga mendorong pemanfaatan media sosial agar kegiatan budaya Sidoarjo lebih luas dikenal.
Baca Juga: Jalan Karangbong Sidoarjo Dalam Ancaman Banjir dan Kerusakan, DPRD Bilang Begini
“Kemudian barangkali ada teman-teman budayawan yang belum tahu kegiatan ini. Jadi ternyata di Sidoarjo sekarang sudah ditumbuhkembangkan,” jelasnya.
Ketua Dekesda, Ribut Wijoto, menyebut pertumbuhan peserta pelajar sebagai hal yang menggembirakan.
“Peserta pelajar ini justru menggembirakan. Sekolah-sekolah di Sidoarjo sekarang sudah mulai punya gamelan dan membuka ekstrakurikuler karawitan,” ujar Ribut.
Ia menepis anggapan bahwa gamelan hanya digemari generasi tua.
“Jadi kekhawatiran bahwa gamelan ini hanya diminati orang-orang tua itu tidak terbukti. Anak-anak muda, khususnya pelajar, justru banyak yang ikut,” tegasnya.
Ribut menambahkan, kualitas kelompok sekolah kini semakin baik. Dari segi komposisi dan penampilan, banyak yang sudah bisa bersaing bahkan melampaui kelompok umum.
Baca Juga: Dukung Deltras Naik Kasta, Subandi Dorong Profesionalisme dan Keterbukaan Manajemen
Nama “Kahuripan” sendiri diambil dari sejarah lokal. Kahuripan merujuk pada Kerajaan Kahuripan era Raja Airlangga. Rujukannya adalah Prasasti Kamalagyan di Krian tahun 1037 dengan frasa “Makadatuan i Kahuripan”.
Ribut juga mengingatkan status gamelan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Karena itu ia berharap lebih banyak sekolah menyediakan perangkat gamelan. Saat ini Dekesda hanya punya 2 set gamelan untuk latihan dan jadwalnya sudah penuh.
Ia berharap ke depan ada wadah kompetisi resmi berjenjang bagi pelajar.
“Harapannya, karawitan, cabang seni karawitan, masuk di dalam, entah di Porseni atau di FLS3N,” harap Ribut.
Festival Gamelan Kahuripan 2026 menjadi bukti sekolah bisa menjadi pusat pembinaan, sementara panggung festival menjadi ruang aktualisasi. Dua hal itu diharapkan menjaga gamelan tetap hidup di tengah generasi Sidoarjo.
Editor : Achmad Supriyadi