Rabu, 04 Nov 2026 02:23 WIB

Tergerus Pasar Digital, Pedagang Kampung Bendera Darmokali Surabaya Menangis Omzet Anjlok

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 04 Agu 2026 21:42 WIB
Kampung Bendera Darmokali Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).
Kampung Bendera Darmokali Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id – Suasana semarak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di kawasan Kampung Bendera Darmokali, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.

Deretan bendera Merah Putih, umbul-umbul, lampion, hingga berbagai ornamen khas perayaan 17-an tampak membentang rapi menghiasi sepanjang jalan kawasan tersebut.

Baca Juga: Nenek yang Dirampok Itu Tetangga Wakil Ketua DPRD Surabaya, Minta Pelaku Segera Ditangkap

Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sentra atribut kemerdekaan ini kembali dipadati warga.

Banyak di antara mereka datang berburu perlengkapan hiasan untuk rumah, lingkungan RT/RW, sekolah, perkantoran, hingga instansi pemerintah.

Namun, di balik warna-warni dekorasi yang memanjakan mata, para pedagang menyimpan duka mendalam. Derasnya arus perdagangan digital membuat omzet mereka tergerus drastis hingga 90 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Safitri, salah seorang pedagang yang telah memproduksi dan menjual atribut kemerdekaan selama satu dekade, mengaku merasakan betul dampak pergeseran tren belanja masyarakat ke platform daring.

“Dulu omzet bisa Rp20 juta sampai Rp50 juta. Sekarang untuk dapat Rp5 juta saja susah, bahkan Rp3 juta sehari juga kadang tidak sampai,” ungkap Safitri saat ditemui di lapaknya, Selasa (4/8/2026).

Meski demikian, Safitri tak patah arang. Penjualan skala besar dari lembaga swasta dan instansi pemerintah seperti kantor kelurahan, kepolisian, TNI, hingga perbankan menjadi tumpuan utamanya untuk terus bertahan.

Di lapak milik Safitri, beragam ornamen dijual dengan harga bervariasi. Lampion dibanderol mulai Rp16 ribu, bendera kain berkisar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu, serta kipas hias merah putih dijual Rp15 ribu hingga Rp40 ribu.

Baca Juga: Nenek Penjual Rujak di Surabaya jadi Korban Perampokan Sadis, Emas 30 Gram Raib

Hal senada diungkapkan Sulis, pedagang lainnya di kawasan Darmokali. Menurutnya, jumlah pembeli yang datang secara fisik terus berkurang setiap tahun.

“Dulu jauh lebih ramai. Sekarang omzet Rp1 juta sehari saja kadang tidak dapat,” keluhnya.

Sadar tak bisa terus bertahan dengan cara konvensional, Sulis mulai memutar otak dengan memanfaatkan platform media sosial untuk menggaet pembeli.

“Kalah sama online. Akhirnya saya juga ikut jualan lewat TikTok, kadang melayani COD karena sekarang semuanya serba online,” jelasnya.

Baca Juga: Sekolah Gratis Disorot, DPRD Surabaya: Harus Benar Gratis Tanpa Pungutan Tambahan

Selain menjual atribut eceran, Sulis menyediakan paket perlengkapan perayaan mulai harga Rp100 ribu, serta dekorasi latar (backdrop) dengan kisaran harga Rp95 ribu hingga Rp300 ribu tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Di tengah gempuran pasar e-commerce, para pedagang menyuarakan harapan agar masyarakat Kota Pahlawan tetap bersedia membeli secara langsung ke Kampung Bendera Darmokali.

Pasalnya, atribut yang dijajakan bukan sekadar barang dagangan, melainkan hasil karya dan produksi mandiri warga setempat.

“Kami bukan hanya menjual, tetapi juga membuat sendiri berbagai perlengkapan itu di sini,” pungkas Sulis.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Gila! Listyo Sigit dkk Sadap Presiden Prabowo hingga Media Sejak 2025

Nomor-nomor yang disadap dimasukan ke dalam sistem tanpa verifikasi. Pada Oktober 2026 tersangka diduga memerintahkan menghapus file penyadapan tersebut.

Presiden Prabowo Diduga Disadap, Ini Komentar PDIP untuk Polri

Menurut Hasto, pengungkapan kasus penyadapan ilegal harus menjadi pintu masuk untuk membongkar kemungkinan adanya praktik-praktik serupa.

Polemik Jam Operasional Pasar Tanjungsari, DPRD Surabaya: Kalau Perlu Perdanya Diubah!

Jika aktivitas perdagangan dibatasi oleh waktu yang terlalu ketat, Kaji Ipuk khawatir dapat berdampak pada kondisi komoditas yang mudah rusak.

Eks Kapolri Listyo Sigit hingga Ahrie Sonta jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden

Diketahui, ketiga jenderal polisi tersebut tak tanya menyadap Presiden Prabowo Subianto, tapi juga menyadap sejumlah pejabat, politisi, media hingga LSM.

Kabar Gembira Warga Probolinggo, Gubernur Jatim Khofifah Gelontorkan Bantuan Rp19,6 M

Dalam momen itu, ‎Khofifah mengatakan bahwa bantuan tersebut mencakup bidang perumahan, ekonomi, kesehatan, pendidikan hingga infrastruktur.

Razia Toko Kelontong di Nganjuk, Petugas Sita 7.540 Batang Rokok Ilegal

David mewanti-wanti seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha agar tidak nekat terlibat dalam rantai distribusi barang ilegal tersebut.