selalu.id - Malam di Jalan Simo gunung Kramat Barat IV-D, Surabaya, terasa seperti malam-malam biasa bagi Alek Mikandi, Rabu (12/8/2026).
Usai melepas penat di warung kopi langganannya, ia melangkah pulang ke rumah sang ibu mendekati tengah malam. Niatnya sederhana: menjemput putra tercintanya, MAA, yang malam itu ditinggal seorang diri, untuk kembali ke kediaman mereka.
Baca juga: PDAM Surabaya Tegaskan Tak Pernah Terbitkan Izin Pengelolaan Air Mandiri CitraLand
Namun, kedamaian malam itu pecah seketika di ruang tamu yang gulita.
Sekitar pukul 23.45 WIB, Alek memutar gagang pintu. Ruangan terdekat tampak gelap gulita. Tanpa curiga, tangannya meraba dinding, mencari sakelar untuk menyalakan lampu.
Begitu pendar cahaya memenuhi ruangan, sebuah pemandangan menyayat hati tersaji tepat di depan matanya: tubuh remaja berusia 15 tahun itu sudah kaku, tergantung pada seutas tali tampar kecil di bagian bawah tangga kayu rumah neneknya.
Kepanikan hebat melanda Alek. Dalam guncangan emosi, ia berlari keluar rumah menerobos heningnya malam, memanggil adiknya, Alen Oktaviano, paman korban, untuk meminta pertolongan.
Harapan untuk menyelamatkan sang buah hati pupus; jerat tali di leher remaja itu telah menghentikan napasnya lebih cepat dari kedatangan bantuan.
Jejak Duka dan Misteri di Balik Layar Kaca
Tak lama setelah laporan masuk, personel dari Polsek Sawahan bergerak menuju lokasi kejadian di Kelurahan Putat Jaya.
Polisi langsung memasang garis pembatas, mengumpulkan bukti, dan menyisir tiap sudut ruang tamu tempat MAA mengembuskan napas terakhir.
Kapolsek Sawahan, Kompol Muljono, mengonfirmasi bahwa dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pemeriksaan medis awal, tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana penganiayaan.
"Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," katanya kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Bukan Air Tanah, CitraLand Surabaya Ungkap Sumber Air untuk Penyiraman Taman dan Lapangan Golf
"Hanya ditemukan bekas lilitan tali tampar kecil di leher korban. Selain tali tersebut, kami juga mengamankan sebuah ponsel milik korban sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut," tambah Muljono.
Jenazah remaja kelahiran 10 April 2011 itu kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya guna menjalani pemeriksaan luar untuk memastikan penyebab pasti kematiannya secara medis.
Di mata keluarga dan lingkungan sekitarnya, MAA dikenal sebagai sosok remaja yang tak banyak bicara.
Di usia yang baru menginjak 15 tahun, ia cenderung tertutup dan sering kali memilih memendam gejolak perasaannya sendiri ketimbang membaginya kepada orang terdekat.
Namun, di balik bungkamnya MAA, ponsel genggamnya merekam jeritan batin yang tak sempat terucap secara langsung.
Sekitar pukul 20.00 WIB, hanya beberapa jam sebelum ayahnya menemukan jasadnya, MAA sempat memperbarui status di aplikasi WhatsApp miliknya. Sebuah kalimat singkat yang penuh beban emosional menjadi pesan terakhir yang ditinggalkannya:
Baca juga: Aset Pemkot Surabaya Belum Maksimal Hasilkan PAD, DPRD: BPKAD Harus Berorientasi Bisnis!
"Aku sendiri pun bingung karena perginya bahagiaku," tulisnya.
Kalimat tersebut kini menjadi satu-satunya petunjuk sunyi atas apa yang berkecamuk di dalam kepala dan hati MAA sebelum mengambil keputusan fatal tersebut.
Pihak kepolisian hingga kini masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap latar belakang psikologis serta pemicu utama di balik tragedi yang menimpa remaja tersebut.
Layanan Bantuan & Konseling Keswa:
Kesehatan mental adalah hal yang sangat penting. Jika Anda, kerabat, atau rekan mengalami tekanan emosional, depresi, atau memiliki pemikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan menanggungnya seorang diri. Bantuan profesional tersedia.
Silakan hubungi layanan darurat kesehatan jiwa Kemenkes di hotline 119 (Extension 8) atau konseling kesehatan jiwa terdekat di kota Anda.
Editor : Zein Muhammad