60 Remaja di Sidoarjo Idap HIV: Tujuh Meninggal, 53 Berjuang Hidup

Reporter : Ariyanto
Ilustrasi HIV/AIDS. (Dok. Freepik).

selalu.id - Data Dinkes Sidoarjo menyebut bahwa dalam periode 2001 hingga Juni 2026, tercatat ada sebanyak 60 kasus HIV secara kumulatif terjadi pada kelompok anak dan remaja usia 11–17 tahun.

Dari jumlah itu, 7 anak meninggal dunia dan 53 anak lainnya berjuang hidup bersama HIV.

Baca juga: Potret CFD di Desa Durung Bedug Sidoarjo yang Kini jadi Wadah Roda Ekonomi Warga

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina meminta masyarakat tidak merespons angka ini dengan kepanikan.

Data tersebut justru menjadi cermin meluasnya jangkauan deteksi dini yang masif dilakukan Pemkab Sidoarjo.

"Sehingga masyarakat yang ditemukan terinfeksi dapat segera memperoleh pengobatan," tegasnya, Kamis (6/8/2026).

Dinkes merinci, temuan kasus HIV pada kelompok usia di atas 24 tahun masih didominasi faktor perilaku berisiko. Sementara pada rentang usia 0–10 tahun, penularan mayoritas terjadi secara vertikal dari ibu ke anak.

Baca juga: Tega, Ibu Ajak Anak Kandung Threesome Sama Kekasihnya di Sidoarjo

Guna membendung penularan vertikal ini, layanan skrining berdasarkan siklus hidup terus diperkuat, termasuk lewat program triple eliminasi (HIV, sifilis, dan hepatitis B) bagi ibu hamil serta pemeriksaan awal pada bayi.

Dinkes juga kembali meruntuhkan mitos salah seputar HIV yang kerap memicu stigma.

Masyarakat diminta paham bahwa HIV tidak menular melalui kontak fisik harian seperti berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, pemakaian toilet bersama, maupun gigitan nyamuk.

Baca juga: HUT ke-81 PMI, Pemkab Sidoarjo Beri Apresiasi Ratusan Pendonor Darah

Penularan HIV sejatinya hanya terjadi melalui aktivitas spesifik: hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke bayi jika tidak mendapatkan intervensi medis selama kehamilan, persalinan, dan menyusui.

Psikolog Pendidikan dan Keluarga, Widji Lestari, menekankan bahwa benteng terkuat remaja berada pada keberanian mengambil keputusan tegas.

Rasa percaya diri serta keberanian berkata "tidak" pada ajakan berisiko menjadi modal utama yang harus dipupuk bersama oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat demi mencetak generasi muda yang bertanggung jawab.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru