Surabaya Mencekam, Konvoi Pemuda Mabuk Berujung Darah

Reporter : Moris Mangke
Ilustrasi konvoi pemuda mabuk di Surabaya berujung penganiayaan. (Dok. Google Gemini).

selalu.id - Malam itu, suasana Jalan Mulyosari yang biasanya ramai oleh pedagang kaki lima dan warga yang masih beraktivitas perlahan berubah mencekam.

Suara knalpot meraung-raung memecah ketenangan malam, disusul teriakan dan keributan yang membuat warga berhamburan keluar rumah.

Baca juga: Hari ke-10, Debarkasi Surabaya Terima 14.781 Jemaah Haji

Tak ada yang menyangka, konvoi sekelompok pemuda yang awalnya hanya melintas akan berakhir dengan aksi penganiayaan yang melukai sejumlah orang.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu malam, 31 Mei 2026. Lima pemuda asal Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini harus berhadapan dengan proses hukum setelah ditangkap Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Mereka adalah EH (26), YBN (26), AMT (22), BTW (27), dan IB (21). Kelimanya diduga menjadi pelaku penganiayaan terhadap warga dan pedagang di kawasan Jalan Mulyosari.

Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, malam itu sebenarnya dimulai seperti kebersamaan biasa.

Sekitar pukul 21.00 WIB, para pemuda tersebut berkumpul di kawasan Jembatan Merah Plaza (JMP). Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan menuju Kenjeran Park.

Di lokasi itulah mereka patungan membeli minuman keras tradisional jenis moke. Minuman khas yang mengandung alkohol itu diminum secara bergantian hingga mereka berada dalam kondisi mabuk.

Tidak lama kemudian, rombongan berangkat meninggalkan kawasan Kenjeran. Mereka mengendarai empat sepeda motor Yamaha Vixion dan satu Suzuki Satria FU.

"Masing-masing pelaku dengan menggunakan 4 sepeda motor, Vixion dan 1 Satria FU. Salah satu motor Vixion milik tersangka BTW, pada saat itu knalpotnya terlepas di jalan," ungkap Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, Kamis (11/6/2026).

Sepanjang perjalanan, suara knalpot brong meraung-raung. Gas motor diputar tinggi seolah ingin menarik perhatian siapa saja yang berada di pinggir jalan.

Perjalanan malam itu akhirnya membawa mereka ke kawasan Mulyosari. Di lokasi tersebut, suara bising kendaraan membuat sejumlah warga dan pedagang keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Sebagian hanya penasaran, sebagian lainnya merasa terganggu oleh ulah rombongan tersebut.

Namun respons warga justru memicu ketegangan. Alih-alih melanjutkan perjalanan, para pemuda itu disebut melakukan provokasi.

Mereka melambaikan tangan dan memanggil warga yang berada di sekitar lokasi. Ketika beberapa warga menghampiri, situasi berubah menjadi bentrokan.

Baca juga: Perkuat Literasi Mahasiswa, RLD dan GMNI Surabaya Gelar Pelatihan Jurnalistik

"Korban dipanggil dengan cara melambaikan tangan, kemudian dihampiri oleh kelompok korban dan pada saat itu para pelaku sudah siap dengan membawa batu paving yang ada disekitar lokasi," kata Lutfie.

Batu paving yang berada di sekitar lokasi dijadikan senjata. Pukulan tangan kosong melayang.

Balok kayu digunakan untuk menyerang korban. Bahkan, knalpot yang sebelumnya terlepas dari sepeda motor digunakan untuk memukul salah seorang warga.

Dalam hitungan menit, suasana yang semula hanya diwarnai suara knalpot berubah menjadi keributan besar.

Salah satu korban bahkan terjatuh ke tanah dan menjadi sasaran pengeroyokan. Tubuhnya diinjak-injak oleh para pelaku sebelum akhirnya warga lain berdatangan memberikan pertolongan.

Di antara korban malam itu terdapat seorang pedagang martabak berinisial ADY. Ia mengaku menjadi sasaran serangan saat mencoba melihat keributan yang terjadi.

Tangannya mengalami luka cukup serius akibat sabetan benda yang diduga senjata tajam.

Baca juga: Cegah Penyakit TBC, Dinkes Surabaya Gandeng Ahli dari Cina-Korea

“Mereka bleyer-bleyer, anak-anak keluar langsung dihantam. Ini tangan saya langsung disabet, darah keluar mengucur terus,” tuturnya mengenang kejadian tersebut.

Melihat semakin banyak warga berdatangan, para pelaku akhirnya memilih melarikan diri. Dalam kepanikan itu, salah satu sepeda motor bahkan ditinggalkan begitu saja di lokasi kejadian.

Motor yang tertinggal itulah yang kemudian menjadi petunjuk penting bagi polisi untuk mengungkap identitas para pelaku.

Penyelidikan yang dilakukan Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya akhirnya mengarah kepada lima pemuda tersebut.

Satu per satu dari mereka diamankan dan kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Malam itu menjadi pengingat bahwa kombinasi minuman keras, emosi yang tak terkendali, dan tindakan provokatif bisa berubah menjadi kekerasan yang merugikan banyak orang.

Sementara bagi para korban, luka yang mereka alami mungkin akan sembuh seiring waktu. Namun ingatan tentang malam ketika jalanan mendadak berubah menjadi arena pengeroyokan kemungkinan akan tetap membekas dalam waktu yang lama.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru