selalu.id - Tren kenakalan remaja di Kota Surabaya menunjukkan penurunan signifikan dalam setahun terakhir.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencatat jumlah kasus yang sebelumnya menembus ratusan kini merosot tajam, dipicu kombinasi kebijakan jam malam dan pola pembinaan yang lebih intensif.
Baca juga: Cara Liburan Murah di Kota Surabaya, Dijamin Nagihin Bestie
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya menyebutkan, lebih dari 450 kasus ditangani sepanjang tahun lalu.
Namun pada 2026, jumlahnya turun drastis hingga di bawah 100 kasus.
Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati mengatakan penurunan ini tak lepas dari kebijakan pembatasan aktivitas malam bagi anak-anak yang mulai diterapkan secara masif.
“Alhamdulillah ada penurunan yang cukup signifikan, terutama sejak diberlakukannya kebijakan jam malam bagi anak-anak,” katanya, Selasa (21/4/2026).
Tak hanya mengandalkan pembatasan jam malam, Pemkot juga mengubah pendekatan penanganan.
Jika sebelumnya anak yang terjaring razia hanya mendapat konseling singkat di Kantor Satpol PP, kini mereka menjalani pembinaan lebih terstruktur.
Anak-anak yang terlibat kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga geng motor, tidak langsung dipulangkan.
Baca juga: Punya Mobil yang Sudah Dijual? Data Belum Diurus Bisa Bikin Gagal Dapat Bansos
Mereka ditempatkan di Rumah Aman untuk mengikuti pembinaan selama 7 hingga 14 hari.
Dalam program ini, peserta tidak hanya mendapat pendampingan psikologis, tetapi juga edukasi tentang bahaya kriminalitas, narkoba, serta penguatan wawasan kebangsaan.
Bagi yang masih berstatus pelajar, Pemkot tetap memfasilitasi kegiatan belajar melalui sistem daring.
“Tidak hanya konseling singkat, tapi ada edukasi yang lebih mendalam agar anak-anak benar-benar memahami dampak dari perilaku mereka,” jelas Ida.
Baca juga: Kakak Thomas Ungkap Kronologi Pengeroyokan yang Diduga Dipicu Perselisihan Sandal Crocs
Program yang berjalan sejak pertengahan tahun lalu ini mulai menunjukkan efek jera. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di Rumah Aman pun disebut terus menurun.
Di sisi lain, Pemkot juga mendorong keterlibatan keluarga melalui edukasi kepada orang tua agar pengawasan terhadap anak lebih optimal.
Kombinasi pendekatan preventif dan pembinaan ini diyakini menjadi kunci menjaga tren penurunan kenakalan remaja di Surabaya.
“Harapannya anak-anak bisa lebih banyak terlibat dalam kegiatan positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak sosial, tapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” tutur Ida.
Editor : Zein Muhammad