Kamis, 01 Okt 2026 13:17 WIB

Sidoarjo Bidik STBM Paripurna 2026, Tim Verifikator Nasional Tinjau Enam Lokasi

  • Penulis : Ariyanto
  • | Kamis, 01 Okt 2026 12:02 WIB
Tim Verifikator Nasional memantau langsung penerapan 5 Pilar STBM di Kabupaten Sidoarjo. (Diskominfo Sidoarjo for selalu.id)
Tim Verifikator Nasional memantau langsung penerapan 5 Pilar STBM di Kabupaten Sidoarjo. (Diskominfo Sidoarjo for selalu.id)

selalu.id - Penerapan sanitasi di Kabupaten Sidoarjo tidak hanya diukur dari ketersediaan fasilitas, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan dan lingkungan.

Hal itu menjadi perhatian utama tim verifikator nasional saat mengunjungi enam titik lokasi dalam penilaian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award Paripurna 2026, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga: GSJT Protes Barcode Solar Bersubsidi, Ratusan Truk Towing Padati Surabaya

Enam lokasi tersebut dipilih untuk menggambarkan pelaksanaan lima pilar STBM di berbagai sektor, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan, pengelolaan sampah, penyediaan air minum, lingkungan permukiman, hingga fasilitas publik.

Verifikasi lapangan dibuka Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo M. Ainur Rohman yang mewakili Bupati Sidoarjo Subandi. Kegiatan itu turut dihadiri jajaran perangkat daerah, Forkopimda, dan stakeholder terkait.

Tim verifikator nasional terdiri dari Johanes Eko Kristiyadi dari Kementerian Kesehatan dan Adam Udi Velianto dari Kementerian Dalam Negeri. Keduanya didampingi lima tim pendamping dari Provinsi Jawa Timur.

Dalam proses penilaian tersebut, perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu aspek penting yang diperiksa. Sebab, keberhasilan program sanitasi tidak cukup dibuktikan dengan pembangunan sarana dan prasarana, melainkan harus terlihat dalam kebiasaan sehari-hari warga.

Ainur mengatakan, STBM merupakan kebutuhan masyarakat yang harus dijalankan secara berkelanjutan, bukan sekadar program untuk mengejar penghargaan tingkat nasional.

“STBM ini tidak bisa hanya pemerintah saja, namun juga dibutuhkan kekuatan kolaborasi baik dari pemerintah, Forkopimda, stakeholder, hingga masyarakat. Yang ingin kami pastikan adalah apakah perilaku masyarakat juga berubah seiring berjalannya progran STBM,” ujar Ainur.

Menurut dia, keberhasilan penerapan STBM membutuhkan keterlibatan seluruh elemen. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat.

“STBM adalah sebuah kebutuhan kami. Ini bagian dari kebutuhan masyarakat. Jadi, meskipun tidak dikonteskan, kami tetap akan menggerakkan program STBM di masyarakat,” tegasnya.

Lima pilar yang menjadi indikator penilaian meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT), pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian tim adalah Kampung STBM di Desa Bluru Kidul RT 14 RW 11, Kecamatan Sidoarjo. Di kawasan tersebut, sebanyak 20 rumah telah menerapkan TGG Sanitasi. Masyarakat juga memiliki tabungan TAMARA LLTT (Layanan Lumpur Tinja Terjadwal) bersama Bank Delta Artha.

Selain penerapan lima pilar di tingkat rumah tangga, warga setempat telah menjalankan pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga secara konsisten. Kampung tersebut bahkan pernah meraih predikat juara RT Sehat pada 2024.

Dari kawasan permukiman, verifikasi berlanjut ke fasilitas pengolahan sanitasi di Kecamatan Jabon. Tim mengunjungi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) UPTD PALD di Desa Kupang untuk melihat proses pengelolaan lumpur tinja sebagai bagian dari sistem sanitasi aman.

Baca Juga: Arah Baru Pengembangan Rumah Sakit di Sidoarjo

Di lokasi yang sama, tim juga meninjau TPA Griyo Mulyo Jabon. Mekanisme pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek yang diamati dalam memastikan keberlanjutan sistem sanitasi di Kabupaten Sidoarjo.

Sementara itu, praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat diperlihatkan melalui TPS3R Pelangi di Desa Ketajen, Kecamatan Gedangan. Pemilahan dan pengolahan sampah dari lingkungan menjadi bagian dari penerapan perilaku hidup bersih.

Saat ini, Kabupaten Sidoarjo memiliki sekitar 346 desa/kelurahan. Dari jumlah tersebut, sekitar 210 desa/kelurahan telah memiliki TPS3R.

Tim juga mengunjungi PAMSIMAS Tirta Bening di Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu. Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat tersebut memiliki hampir 300 sambungan rumah (SR), sehingga menjadi salah satu contoh penyediaan akses air minum berbasis masyarakat.

Dua lokasi lainnya berada di Puskesmas Gedangan dan Stasiun Sidoarjo. Keduanya menjadi contoh penerapan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), terutama dalam penyediaan fasilitas pelayanan publik yang memperhatikan kesetaraan gender, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, dan inklusi sosial.

Dari hasil kunjungan, tim verifikator memberikan sejumlah catatan terhadap penerapan sanitasi di berbagai lokasi. Fasilitas GEDSI di Stasiun Sidoarjo dan Puskesmas Gedangan dinilai telah diterapkan dengan baik. Pemeliharaan fasilitas juga disebut sudah memiliki jadwal yang cukup teratur.

Pada aspek pengelolaan sampah, pemilahan secara rutin di Puskesmas Gedangan dinilai berjalan baik. Sementara itu, mekanisme pengelolaan di TPA Griyo Mulyo dinilai cukup rapi. Penerapan STBM di Desa Bluru Kidul juga mendapat penilaian positif.

Baca Juga: Operasi Tekan ODOL di Sidoarjo, Puluhan Truk Tak Laik Jalan

Meski demikian, keberlanjutan menjadi perhatian utama tim verifikator. Praktik baik yang telah berjalan diharapkan tidak hanya dipertahankan selama proses penilaian, tetapi terus menjadi kebiasaan masyarakat.

Johanes Eko mengatakan, secara umum penerapan sanitasi di lokasi yang dikunjungi telah berjalan baik. Namun, konsistensi pelaksanaan tetap diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Secara umum sudah baik. Harapannya apa yang sudah diterapkan ini bisa terus dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan, sehingga benar-benar diterapkan oleh masyarakat,” ucap Johanes Eko.

Menanggapi hasil verifikasi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, masukan tim akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut pemerintah daerah.

Dinkes Sidoarjo akan memastikan penerapan lima pilar STBM tidak berhenti pada pemenuhan sarana maupun kegiatan program. Implementasinya harus menjangkau masyarakat hingga tingkat rumah tangga.

“Dinkes akan menindaklanjutinya dan memastikan STBM 5 Pilar sampai pada level masyarakat rumah tangga,” pungkasnya.

Editor : Achmad Supriyadi
Berita Terbaru

Digeruduk Gempar Jatim, Citraland Surabaya Bantah Privatisasi Air

Perwakilan manajemen Marketing Officer Citraland, Rina, mengaku tak memiliki kewenangan untuk menjelaskan persentase pengelolaan air di kawasan tersebut.

Kejutan! Presiden Prabowo Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit, DPR Setuju Komjen Suyudi sebagai Kapolri Baru

Lembaga legislatif menerima Surat Presiden terkait permintaan dilakukannya uji kelayakan calon tunggal Kapolri.

Pemkot Surabaya Batasi Kendaraan Dinas, Kadis Dipegangi Mobil Listrik

Kendaraan dinas akan diprioritaskan bagi pejabat dan perangkat daerah yang memang membutuhkan kendaraan untuk menunjang tugasnya.

Top 5 Berita: 3 Anggota DPRD Kader Gerindra hingga Kakek Tewas

Kelima berita yang banyak di klik oleh pembaca di dominasi pemberitaan soal tiga anggota DPRD dari Kader Gerinda yang ditangkap polisi saat pesta narkoba.

Gerindra Jatim Siapkan Sanksi Pemecatan hingga PAW Bagi Kadernya yang Pesta Sabu di Surabaya

Pihak partai menegaskan tak segan mengambil langkah pemecatan hingga Pergantian Antar Waktu (PAW) jika tuduhan tersebut terbukti secara hukum.

Siapa Pemilik The Alana Hotel Surabaya?

Hotel bintang empat ini berlokasi di Jalan Ketintang Baru I No. 10–12, Surabaya. Lokasinya, tak jauh dari tempat diskotek bahkan Polda Jawa Timur.