selalu.id - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya menyebut penghapusan pekerjaan rumah (PR) yang akan diterapkan oleh Pemkot Surabaya harus memperhatikan dampak Positif Negatif. Hal itu di sampaikan oleh anggota Komis D, Cahyo Siswo Utomo.
Menurut Cahyo penghapusan PR harus diiringi dengan kajian untuk mempertahankan dampak positif pada anak.
Baca juga: Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..
Menurutnya, PR bisa menguatkan pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang didapat sebelumnya. Cahyo menyebut jika penghapusan PR tersebut harus dikaji terlebih dahulu lebih dalam.
"Dampak positif harus tetap ada," ujar Cahyo, Jumat (21/10/2022).
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Surabaya itu memaparkan, dampak negatif PR banyak menyita waktu siswa, bikin stress. Apalagi jika tugas sekolah sangat menumpuk.
Meski begitu, dampak positifnya dari itu, jadi bahan evaluasi guru terkait pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan di sekolah.
Baca juga: Diskon BPHTB Surabaya 40 Persen: Fokus Rumah Pertama, Lindungi PAD dan Bantu MBR
"Itu bisa dicek di PR dan mereview kembali,"ungkapnya.
Lebih lanjut Cahyo menerangkan, apabila PR terpaksa dihapus, kebijakannya tidak kaku, bisa dibuat regulasi latar belakang penghapusannya.
Misalnya, biar anak tidak stress, punya waktu banyak berinteraksi di luar sekolah. Seperti ngaji atau bermain dengan temannya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Tetapkan Perwalian 75 Anak Perlindungan Khusus
Ini menambahkan, tetap menjaga dampak positif, meminimalisir kelalaian siswa, dalam meningkatkan kualitas belajarnya.
"Mungkin yang jenjang SMP diatur, siswa dikasih PR satu mata pelajaran, yang lainnya jangan," tuturnya.
"Andaikan PR dihapus, saya berharap dampak positif tetap didapatkan siswa,"pungkasnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi