selalu.id - Beredarnya foto eks pengurus PDI Perjuangan (PDIP) Surabaya bersama kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memicu spekulasi hangat di peta politik Kota Pahlawan.
Fenomena perpindahan kader ini dinilai tidak hanya sekadar pertukaran figur, melainkan potensi pergeseran mesin politik di tingkat akar rumput.
Baca juga: Achmad Hidayat Gabung PSI, Sebut Kader PDIP Surabaya Bakal Ikuti Langkahnya
Dalam foto yang beredar, tampak sejumlah nama berlatar belakang PDIP, seperti mantan Sekretaris PDIP Surabaya Achmad Hidayat, eks Ketua PAC Tambaksari Arief Wirawan, hingga Eusebius Purwadi yang tercatat masih menduduki posisi pengurus di DPC PDIP Surabaya.
Pakar Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, menilai jika kabar perpindahan ini benar terjadi, dampaknya terhadap PDIP Surabaya berpotensi cukup signifikan.
“Kalau memang perpindahan ini benar-benar terjadi dan diikuti oleh jaringan politik yang selama ini mereka bangun, dampaknya memang berpotensi sangat signifikan,” kata Ken saat dihubungi selalu.id, Minggu (11/10/2026).
Namun, Ken menegaskan pentingnya membedakan tiga elemen utama dalam dinamika partai politik, yakni kehilangan sosok tokoh, kehilangan jaringan, dan kehilangan suara elektoral. Ketiga faktor tersebut tidak selalu berjalan beriringan.
Secara khusus, Ken menyoroti posisi Eusebius Purwadi. Berbeda dari mantan kader biasa yang mencari kendaraan baru, Eusebius masih terdaftar aktif dalam struktur kepengurusan DPC PDIP Surabaya.
Baca juga: Heboh! Beredar Foto Eks Pengurus PDIP Surabaya Pegang KTA PSI, Sinyal Pindah Partai?
“Kalau memang benar Pak Eusebius itu ikut berpindah, persoalannya bukan lagi sekadar seorang mantan kader yang mencari kendaraan politik baru, tetapi juga persoalan tentang konsolidasi organisasi bagi PDIP Kota Surabaya,” ujarnya.
Ken menjelaskan, nilai strategis seorang kader lokal sering kali terletak pada pemahaman teknis terhadap kerja organisasi, komunikasi antar-kader, hingga manajemen saksi pemilu, hal yang pernah dipegang Eusebius saat menjabat Kepala Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) PDIP Surabaya.
Meski begitu, Ken mengingatkan agar publik tidak membesar-besarkan figur perorangan sebagai satu-satunya penentu. Kekuatan PDIP dinilainya tetap bertumpu pada struktur kolektif dan basis pemilih yang mengakar kuat.
Di sisi lain, potensi bergabungnya para tokoh ini menjadi modal strategis bagi PSI untuk memperkuat mesin politiknya di Surabaya.
Baca juga: Armuji Minta Ranting PDIP Surabaya Ambil Hati Warga di Pemilu 2029, Jangan Main Proyek!
“PSI berpeluang memperoleh dua modal sekaligus. Jika memang ini benar terjadi, figur yang pertama memiliki jaringan politik dan orang yang memahami kerja organisasi dari dalam,” paparnya.
Kendati demikian, Ken menggarisbawahi bahwa pengalaman organisasi di partai lama tidak otomatis menjamin kemenangan bagi partai baru. PSI tetap dituntut membuktikan kerja politik nyata di tengah masyarakat.
“Pengetahuan mengenai organisasi lama itu tidak otomatis menghasilkan kemenangan bagi organisasi baru seperti PSI,” jelasnya.
Editor : Zein Muhammad