selalu.id - Gunung Kawi tak lepas dengan kata pesugihan, ritual hingga mistisnya. Terletak di barat daya Kabupaten Malang, Gunung Kawi konon disebut-sebut menawarkan kekayaan instan dengan imbalan yang mengerikan.
Selama bertahun-tahun, tempat ini diselimuti aura gaib, menarik perhatian banyak orang yang mencari jalan pintas menuju kemakmuran.
Baca juga: Malam Satu Suro 2026 Kapan? Berikut Jadwal, Sejarah hingga Maknanya
Meskipun para juru kunci dan pihak pengelola menegaskan bahwa tempat ini adalah lokasi ziarah, narasi tentang pesugihan tetap menjadi daya tarik misterius yang tak lekang oleh waktu.
Lantas, apa saja pesugihan paling tersohor (terkenal) di Gunung Kawi? Berikut rangkumannya:
Perjanjian Mematikan, Harta Dibalas Nyawa
Kepercayaan akan adanya pesugihan tak lepas dari pemahaman "harta dibalas nyawa". Mitos yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa kekayaan yang diperoleh melalui jalan pesugihan harus dibayar dengan nyawa.
Menurut salah satu peneliti mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB), Harun Rasyid Al Habsyi, pengorbanan ini bervariasi tergantung motif pelaku.
"Kami memang menemukan istilah 'harta dibalas nyawa'. Pengorbanannya bervariasi, tergantung motif, karena ada yang mencari kekayaan, jabatan, hingga penglaris," ungkapnya.
Meski begitu, tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim tersebut. Harun mengatakan, informasi ini hanya didapat dari penuturan warga lokal dan belum dapat dipastikan kebenarannya karena fokus utama penelitian mereka adalah aspek mental.
Alih-alih menemukan bukti tumbal, studi itu justru menemukan adanya korelasi antara keyakinan kuat pada praktik tersebut dengan gangguan mental, khususnya psikosis.
Artinya, obsesi pada pesugihan bisa jadi merupakan kecenderungan psikologis tertentu yang mendorong seseorang mencari solusi irasional.
Tumbal 'Wedhus Kendit'
Merangkum dari berbagai sumber, salah satu elemen paling terkenal dari mitos pesugihan Gunung Kawi adalah penggunaan "wedhus kendit" sebagai tumbal.
Kambing ini memiliki ciri khas berupa corak berwarna putih melingkar di bagian perutnya, yang menyerupai sabuk.
Konon, kambing ini adalah syarat utama dalam ritual tertentu untuk mendapatkan kekayaan atau jabatan.
Ritual ini disebut-sebut dilakukan pada malam-malam keramat seperti malam Jumat Legi atau malam 1 Suro, dengan biaya yang tidak sedikit.
Praktik ini dipercaya melibatkan sosok pemandu spiritual yang disebut "pangoyeg". Di mana, pangoyeg dipercaya memiliki kekuatan untuk memperantarai permintaan manusia dengan entitas gaib.
Editor : Zein Muhammad