Sederet Cara PMI Surabaya Deteksi Dini Penyakit Menular di Tengah Cuaca Ekstrem

Reporter : Ade Resty
Pelatihan pengendalian KLB dan Surveilance kepada relawan PMI. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya menggelar pelatihan relawan tentang kewaspadaan terhadap potensi wabah penyakit menular di tengah perubahan cuaca ekstrem, Senin (18/5/2026).

Dalam momen itu, PMI Surabaya juga menyoroti munculnya kasus hantavirus di dunia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar pelatihan pengendalian kejadian luar biasa (KLB) dan surveillance berbasis masyarakat.

Baca juga: Konser Denny Caknan di Eks Hi-Tech Mall Surabaya Membludak, Pagar Besi Sampai Jebol

Staf Divisi Kesehatan dan Sosial PMI, Anggi Ardiyansah mengatakan pelatihan tersebut difokuskan pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mendeteksi lebih awal potensi penyakit menular maupun wabah di lingkungan sekitar.

“Jadi kegiatan ini memang sifatnya pemberdayaan masyarakat, khusus untuk pengendalian kejadian luar biasa dan pelaksanaan surveillance berbasis masyarakat,” kata Anggi kepada selalu.id.

Perubahan iklim yang terjadi belakangan ini turut memicu munculnya berbagai penyakit menular.

Apalagi, kondisi cuaca yang berubah drastis dari hujan lebat ke panas ekstrem dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit tertentu.

“Nah, ini juga ada kaitannya dengan panas ekstrem. Ada beberapa penyakit yang sifatnya menular atau wabah yang juga disebabkan oleh dampak panas ekstrem itu,” jelas Anggi.

Pelatihan pengendalian KLB dan Surveilance kepada relawan PMI. (Foto: Ade/selalu.id).

Baca juga: Adu Nasib di Surabaya, Arek Blitar Malah Masuk Penjara

Ia menyebut hantavirus menjadi salah satu penyakit yang kini mulai mendapat perhatian. Penyakit tersebut dinilai masuk kategori emerging disease atau penyakit yang kembali muncul dan perlu diwaspadai bersama.

Sementara itu, Wakil Ketua sekaligus Ketua Harian PMI Kota Surabaya, Taufik Rohman Hidayat mengatakan pelatihan surveillance masyarakat menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini potensi wabah, termasuk hantavirus.

“Muncul penyakit hantavirus. Nah, ini juga ada kaitannya dengan kegiatan surveillance ini. Jadi ketika ada tanda gejala yang mengarah kepada penyakit menular atau wabah itu teman-teman yang mengikuti pelatihan ini bisa melaporkan,” katanya.

Taufik menjelaskan, metode serupa sebelumnya juga pernah diterapkan PMI saat pandemi Covid-19. Bedanya, saat itu pelatihan dilakukan secara daring karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat.

Baca juga: Warga Surabaya Menjerit soal Debu Proyek Drainase, DSDABM Siapkan Sanksi Tegas pada Kontraktor

“Nah, karena sekarang sudah tidak ada pembatasan itu kita melakukan secara offline. Itu juga bisa menjadi modal untuk penjagaan hantavirus di tingkat masyarakat,” jelasnya.

Taufik menambahkan, pelatihan pengendalian KLB tidak harus selalu digelar PMI pusat. PMI tingkat kabupaten dan kota juga dapat menginisiasi kegiatan serupa sesuai kebutuhan daerah masing-masing.

“Teman-teman di kabupaten kota pun bisa menginisiasi untuk melakukan, melalui kegiatan yang memang sudah dimasukkan ke dalam kegiatan rutin,” tandasnya.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru