Senin, 12 Okt 2026 16:56 WIB

Bayi 28 Hari Meninggal Usai Diberi Makan Telur di Surabaya, IDAI: Asi Makanan Terbaik

  • Penulis : Ade Resty
  • | Senin, 12 Okt 2026 15:48 WIB
RSUD dr Soetomo. (istimewa)
RSUD dr Soetomo. (istimewa)

selalu.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) buka suara pasca peristiwa seorang bayi yang masih berusia 28 hari meninggal dunia setelah diduga diberi makan telur oleh neneknya. 

Bayi tersebut menghembuskan napas terakhirnya di RSUD dr Soetomo. IDAI mengingatkan orang tua dan pengasuh agar tidak sembarangan memberikan makanan kepada bayi, terutama yang belum memasuki usia pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI). 

Baca Juga: Top 5 Berita: PSI hingga Bayi Meninggal Dunia Usai Diduga Dicekoki Telur

Penegasan tersebut disampaikan IDAI menyusul perhatian publik terhadap pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi. IDAI menegaskan, telur dalam kondisi tersebut tidak dianjurkan diberikan kepada bayi dan anak karena memiliki risiko keamanan pangan. 

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Basarah Yanuarso, menyampaikan bahwa pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan. 

“ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi,” kata Basarah dalam pernyataannya, Senin (12/10/2026). 

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. 

Selama periode tersebut, bayi yang belum mendapatkan MPASI tidak membutuhkan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, jus, kaldu maupun bahan makanan yang diencerkan. 

MPASI secara umum baru dianjurkan ketika bayi berusia enam bulan. Namun, dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan mulai usia empat bulan atau 17 minggu. 

Meski demikian, IDAI menegaskan pemberian MPASI sejak usia empat bulan bukanlah rekomendasi rutin. Keputusan tersebut harus berdasarkan pertimbangan klinis dokter dan melihat kesiapan perkembangan bayi. 

“Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan,” tegasnya. 

Kesiapan bayi menerima makanan juga tidak hanya ditentukan dari usia. Bayi perlu memiliki kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher, mampu duduk dengan bantuan, memiliki koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan, serta mulai menunjukkan ketertarikan terhadap makanan. 

Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan maupun tekstur yang dapat ditoleransi bayi dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi hingga gangguan pemberian makan. 

Baca Juga: Diduga Dicekoki Telur Mentah, Bayi di Surabaya Meninggal Dunia

IDAI secara khusus mengingatkan mengenai pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. 

Telur dalam kondisi tersebut berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan salmonelosis. 

Infeksi tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah hingga dehidrasi. 

Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. 

IDAI menilai tidak ada keuntungan gizi dari telur mentah atau setengah matang yang sebanding dengan risiko keamanan pangan tersebut. 

Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi salah satu sumber protein berkualitas tinggi untuk anak. 

Telur dapat diperkenalkan sebagai bahan MPASI setelah bayi mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan pendamping. Tekstur telur juga harus disesuaikan dengan kemampuan makan bayi. 

IDAI juga menegaskan telur tidak harus ditunda pemberiannya hingga anak berusia satu tahun hanya untuk mencegah alergi, kecuali terdapat pertimbangan medis khusus. 

Orang tua diminta memastikan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang. Untuk makanan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, IDAI menyarankan penggunaan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan. 

Selain itu, kebersihan tangan dan peralatan, pencegahan kontaminasi silang, penyimpanan telur yang benar serta menghindari telur yang retak atau rusak juga perlu diperhatikan. 

IDAI mengimbau orang tua berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki keraguan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan bayi menerima makanan maupun pilihan makanan yang aman. 

IDAI menegaskan keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap praktik pemberian makanan.

Editor : Achmad Supriyadi
Berita Terbaru

Jalan Sehat Bersama, Cara TPK Merauke Perkuat Kesejahteraan dan Keselamatan Pegawai

Langkah ini dinilai esensial membangun keseimbangan yang ideal antara tuntutan profesionalisme kerja dan pemenuhan kebutuhan untuk tetap sehat serta bugar.

Potret Semangat Siswa SDN 2 Ploso Nganjuk Belajar dengan Lesehan di Gedung Darurat

Langkah pengungsian KBM ini diambil lantaran gedung utama SDN 2 Ploso tengah direhabilitasi total. Pihak sekolah mewajibkan area proyek steril demi keselamatan.

Hari Jadi ke-81 Jatim, Bupati Sidoarjo Soroti Pertumbuhan Ekonomi dan Keterbukaan Informasi Desa

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator kontribusi Sidoarjo terhadap perekonomian provinsi di tengah dorongan peningkatan investasi dan penyerapan tenaga

Komplotan Curanmor asal Bangkalan Berhasil Diringkus, Satu Ditembak

Ketiga pelaku yakni AG (24), warga Dlambak Laok, Tanah Merah, MZ (34), warga Desa Tunjung, Burneh dan MS (35), warga Desa Alok, Burneh, Bangkalan.

HUT ke-81 Jatim: Wali Kota Mojokerto Tekankan Semangat Unggul, Maju Berkelanjutan

Ika Puspitasari membacakan sambutan Gubernur Jawa Timur.

Eks Kader Berlabuh ke PSI, Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Armuji Bungkam

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan dari Armuji maupun DPC PDIP Surabaya mengenai hal tersebut.