Misteri Bunker Jepang di Nganjuk, Konon jadi Bekas Penjara Presiden Soeharto

Reporter : Yohanes Arberto
Penampakan Bunker Penjagan Jepang di Dusun Jatirejo, Nganjuk, yang disebut pernah jadi penjara para pejuang Indonesia. (Foto Yohanes/selalu.id).

selalu.id - Di balik lebatnya pepohonan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tersembunyi dua bangunan beton peninggalan masa penjajahan Jepang.

Situs yang dikenal warga sebagai Benteng Penjagan Jepang ini menyimpan lembaran sejarah kelam sekaligus nilai kepahlawanan yang tinggi.

Baca juga: Kisah Pilu Warga Madiun Bayar Utang Bank Orang Lain Rp170 Juta, Rumah juga Terancam Dilelang

​Benteng pertahanan ini dibangun pada masa pendudukan Jepang sekitar 1942 hingga 1944. Lokasinya berada di Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

​Secara fisik, kompleks benteng ini dulunya tidak hanya berfungsi sebagai pos pertahanan militer. Kawasan tersebut juga dilengkapi bangunan penampung air serta asrama di perkampungan sekitarnya. ​Namun, fungsi situs ini ternyata jauh lebih kelam dari sekadar pos militer.

Aris dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk mengungkapkan, benteng tersebut pernah difungsikan sebagai tempat penahanan bagi warga Indonesia yang ditangkap tentara Jepang.

​Salah satu catatan sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat menyebutkan bahwa Presiden Republik Indonesia kedua, Soeharto, pernah ditahan di tempat ini.

​"Menurut cerita warga, Pak Soeharto dulu pernah dimasukkan di sini, dipenjara di sini karena menjadi kurir mata-mata bangsa Indonesia, akhirnya ditangkap lalu ditaruh sini," katanya kepada selalu.id, Sabtu (7/11/2026).

​Selain itu, benteng ini juga disebut-sebut menjadi tempat penahanan para pejuang yang terlibat dalam pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar.

​Penderitaan rakyat di balik pembangunan benteng ini turut dibeberkan oleh Sumidi (57), warga Dusun Jatirejo yang tinggal di sekitar lokasi bunker. Menurutnya, para pekerja romusa kala itu diperlakukan secara tidak manusiawi.

Baca juga: Asa Baru Kebangkitan Jaranan Pogogan Nganjuk

​"Kerja paksa, makannya tidak selayaknya, kalau angkat berat tidak kuat malah orangnya dipukul, lalu dipukuli sampai banyak yang meninggal menurut sejarah," ungkapnya.

Beruntung, sang ayah yakni Said, berhasil selamat dan baru meninggal dunia setelah masa romusa berakhir.

​Sumidi juga mengenang sosok Mbah Namli Supardi, seorang pejuang lokal yang ditangkap tentara Belanda karena menolak menunjukkan markas tentara Indonesia, hingga akhirnya gugur ditembak mati.

​Dari segi arsitektur, dua bunker yang berdiri di lokasi ini memiliki kemiripan hingga 90 persen. Bangunan memiliki panjang sekitar 11,4 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 3 meter.

Baca juga: Langkah Sigap Bupati Nganjuk Marhaen Tangani Data Kemiskinan Warganya yang Tak Sesuai

​Uniknya, bangunan ini hanya memiliki satu pintu besar dengan ventilasi di bagian depan dan belakang. Selain itu, dinding benteng dirancang berlapis dua dengan rongga kosong di bagian tengahnya.

​Hingga kini, benteng bersejarah tersebut belum resmi menyandang status sebagai Cagar Budaya.

Kendati demikian, Dinas Porabudpar Kabupaten Nganjuk bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) tengah menggodok serius proses pendataan dan pengkajian agar situs ini mendapat payung hukum perlindungan undang-undang.

​"Ya mudah-mudahan pemerintah memperhatikan, silakan ini dirawat, dibangun yang bagus untuk dilestarikan menjadi cagar budaya," kata Sumidi.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru