Ditlantas Polda Jatim Perkuat MQR, Kini Libatkan 5 Pilar Tekan Kecelakaan

Reporter : Dony Maulana
Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Jatim, AKBP Edith Yuswo Widodo saat memberi arahan. (dony/selalu.id)

selalu.id - Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur meningkatkan kinerja Mahameru Quick Respon (MQR). Kini sistem penanganan titik rawan kecelakaan atau black spot tidak hanya ditangani kepolisian, tapi digarap bersama lima instansi terkait secara terpadu. 

Langkah ini dilakukan untuk menekan angka kecelakaan dan mempercepat respons di lokasi rawan di seluruh wilayah Jawa Timur. 

Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Jatim AKBP Edith Yuswo Widodo menyebut, sebelumnya MQR hanya digunakan internal kepolisian untuk penempatan personel dan patroli. 

Sekarang sistem diperkuat dengan melibatkan kepolisian, Dinas Perhubungan, PU Bina Marga, Dinas Kesehatan, dan pemangku kepentingan lain melalui Forum Lalu Lintas. 

"Inti dari penguatan ini adalah integrasi data dan tindakan mitigasi penanganan black spot. Data disatukan melalui program IRMS dari Korlantas Polri, sehingga kita dapat menyusun kebijakan yang tepat sesuai dengan anatomi kecelakaan di masing-masing wilayah," ungkap AKBP Edith, Rabu (21/10/2026). 

Dengan integrasi data itu, setiap instansi bisa memantau zona rawan secara daring dan langsung mengambil langkah. Contohnya, Dishub mengatur rambu dan marka, PU Bina Marga memperbaiki konstruksi jalan, sementara polisi memperketat pengawasan. 

"Penanganan tidak hanya berpusat di tingkat provinsi, tetapi telah menjangkau seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur," tegas Edith. 

Prioritas penanganan diberikan ke lokasi dengan angka kematian tertinggi akibat kecelakaan. Selain perbaikan fisik, upaya preventif juga diperkuat lewat pengawasan berbasis teknologi. 

Saat ini lebih dari 1.500 kamera CCTV dari berbagai sumber sudah terhubung ke sistem MQR. Sumbernya mulai dari Jasa Marga, Pemprov Jatim, hingga pemkab/pemkot. 

Kamera-kamera itu berfungsi memantau arus lalu lintas sekaligus merekam kejadian. Rekamannya bisa dipakai sebagai data dan barang bukti yang akurat. 

"Tidak hanya sekadar menampilkan peta lokasi rawan, tetapi pergerakan personel di lapangan pun dapat dipantau langsung melalui perangkat di kendaraan patroli. Kerja sama untuk menambah jumlah CCTV yang terhubung terus diperluas, namun saat ini lebih dari 1.500 CCTV sudah aktif terhubung secara nyata," tambahnya. 

Dengan sistem terintegrasi ini, Ditlantas Polda Jatim berharap penanganan black spot bisa lebih cepat dan tepat sasaran. Tujuannya menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur secara berkelanjutan.

Editor : Achmad Supriyadi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru