Cabai Rawit Tembus Rp92 Ribu per Kilogram, Siap-siap Inflasi Makin Pedas

Reporter : Zein Muhammad
Penjual cabai di Pasar Keputran Surabaya. (Dok. Selalu.id).

selalu.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan laju inflasi pada Oktober 2026 bakal mengalami peningkatan.

Tekanan harga pangan, khususnya komoditas cabai, menjadi pemicu utama melonjaknya angka inflasi secara tahunan.

Baca juga: Harga Cabai Rawit di Sejumlah Wilayah Indonesia Naik, Ada yang Rp200 Ribu per Kilo

Berdasarkan laporan Inflasi Bulanan Oktober 2026 LPEM FEB UI, inflasi tahunan (year-on-year) diproyeksi menembus rentang 3,25 persen hingga 3,31 persen.

Jika estimasi ini terealisasi, angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan dibanding realisasi inflasi tahunan Oktober 2025 yang berada di level 2,86 persen.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month), LPEM FEB UI memperkirakan inflasi Oktober 2026 berada di kisaran 0,25 persen hingga 0,3 persen.

Angka ini relatif stabil jika disandingkan dengan realisasi inflasi bulanan pada September 2026 yang menyentuh 0,3 persen.

"Proyeksi ini mengasumsikan tidak ada penyesuaian harga yang diatur pemerintah, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada Oktober," bunyi petikan laporan LPEM FEB UI dikutip, Senin (12/10/2026).

Komoditas Cabai Biang Kerok Inflasi

LPEM FEB UI menggarisbawahi bahwa gejolak harga pangan masih menjadi motor penggerak utama inflasi.

Pada September 2026 lalu, komponen harga bergejolak (volatile food) menyumbang andil hingga 0,24 persen poin atau setara 80 persen dari total inflasi bulanan.

Baca juga: Harga Cabai Rawit di Probolinggo Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

Dari angka tersebut, komoditas cabai rawit dan cabai merah menjadi penyumbang terbesar. Cabai rawit memberi andil 0,08 persen poin dan cabai merah 0,06 persen poin, gabungan keduanya menyumbang hampir separuh inflasi bulanan September.

Lonjakan harga paling mencolok terjadi pada cabai rawit merah eceran yang melambung 39 persen menjadi Rp92.505 per kilogram. Kenaikan harga terjadi merata di seluruh rantai distribusi.

Tingkat produsen naik 25 persen menjadi Rp55.139/kg, tingkat grosir naik 45 persen menjadi Rp75.743/kg, dan tingkat Eleceran naik 39 persen menjadi Rp92.505/kg.

Di saat yang sama, harga cabai rawit hijau eceran turut terkerek 18 persen menjadi Rp65.068 per kilogram.

Tim peneliti LPEM FEB UI mengidentifikasi tiga faktor utama yang memicu meroketnya harga cabai di pasaran.

Baca juga: Beda dengan Surabaya, Harga Cabai dan Ayam di Mojokerto Justru Melejit Naik

Di antaranya keterbatasan air, gangguan pasokan akibat dampak fenomena El Nino, cuaca ekstrem yakni kemarau panjang dan cuaca panas terik yang merusak volume hasil panen.

Kendala logistik yaitu ketersediaan pasokan serta tantangan jarak dari sentra produksi menuju pasar konsumen.

Merespons kondisi tersebut, LPEM FEB UI mendorong pemerintah untuk memperkuat rantai distribusi dan pemerataan pasokan antarwilayah.

Langkah ini dinilai krusial agar beban lonjakan harga tidak menumpuk di daerah-daerah yang jauh dari sentra produksi.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru