selalu.id - Menjelang akhir tahun 2026, stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia bikin cemas. Akankah nantinya akan aman?
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa Indonesia sempat kehilangan pasokan impor BBM hingga 25 persen akibat dinamika dan konflik yang melanda kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Awas! Ratusan Ton Emas Ilegal Beredar di Indonesia, Kenali Ciri-cirinya
Kondisi tersebut diperberat dengan berkurangnya minat peserta lelang pengadaan BBM yang biasa digelar oleh PT Pertamina (Persero).
Menanggapi tantangan ini, pemerintah mengambil langkah proaktif dengan melakukan pencarian pasokan (hunting) secara langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan cadangan BBM.
"Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," kata Laode dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Meski menghadapi tantangan pengadaan serta potensi lonjakan harga di pasar internasional, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, khususnya jenis Solar dan Bensin.
Baca juga: Bupati Fawait Pastikan Pasokan BBM di Jember Aman dan Bakal Ditambah
Langkah ini diambil guna menjaga tingkat inflasi nasional serta melindungi daya beli masyarakat, terutama sektor rentan seperti petani dan nelayan.
Terkait fenomena antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) daerah beberapa waktu terakhir, Laode menepis anggapan adanya kelangkaan pasokan.
Ia menegaskan hambatan tersebut murni disebabkan kendala jalur distribusi akibat cuaca ekstrem El Nino.
Baca juga: Update Harga BBM Pertamina per 17 Agustus 2026: Dari Pertamax, Pertalite hingga Solar
Kemarau akibat El Nino mengakibatkan sejumlah alur sungai mengering, sehingga alur logistik yang semula menggunakan moda transportasi kapal terpaksa dialihkan menggunakan armada truk tangki darat dengan kapasitas angkut yang lebih terbatas.
"Kondisi El Nino ini menyebabkan proses pengiriman dan distribusi yang contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," jelas Laode.
Editor : Zein Muhammad