selalu.id - Lima kelompok keroncong asal Sidoarjo memeriahkan Hari Keroncong Nasional yang digelar di Panggung Dardanella, kompleks Sekretariat Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Jalan Erlangga Nomor 67.
Kelima kelompok itu yakni Riang Gembira, New Anggrek 5 Jari, Laras Merak, Embongan, dan Syahdana. Dekesda Sidoarjo sedang menghidupkan kembali dan meregenerasi musik keroncong.
Keroncong membutuhkan orang-orang yang terus memainkannya, ruang untuk berkembang, serta generasi baru yang bersedia meneruskannya. Keroncong berada di persimpangan, di satu sisi, alunan musik ini telah menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Namun, perubahan selera masyarakat menghadirkan tantangan tersendiri agar keberadaannya tidak sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pesan dalam pertunjukan bertajuk “Hari Keroncong 1 Oktober - Awal Perjuangan dari Sidoarjo” yang digelar di , Kamis (1/10/2026) malam.
Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Ribut Wijoto, menyebut peringatan tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga mengingatkan kembali perjalanan panjang para musisi dalam memperjuangkan penetapan Hari Keroncong Nasional.
Menurutnya, perjuangan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hingga akhirnya 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Keroncong Nasional.
“Kami berharap cita-cita menjadikan Sidoarjo sebagai barometer keroncong nasional bisa terwujud. Tetapi ini tidak cukup hanya disampaikan oleh para pelaku seni. Harus ada keterlibatan bersama agar potensi yang kita miliki bisa berkembang menjadi kekuatan nyata,” katanya.
Ribut menegaskan, penetapan Hari Keroncong Nasional bukanlah akhir dari perjuangan. Sebaliknya, pengakuan tersebut menjadi awal untuk memastikan musik keroncong tetap hidup dan memiliki ruang di tengah masyarakat.
“Setelah mendapatkan pengakuan, tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan keroncong tetap hidup, berkembang, dan memiliki tempat di tengah masyarakat, terutama agar bisa diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Agus Subagiyo, yang dikenal dengan Gustaf, maestro keroncong asal Sidoarjo, mengulas kembali perjalanan panjang hingga 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Keroncong Nasional.
Ia menjelaskan, gagasan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Sejumlah kajian disusun dan dukungan dari insan seni berbagai daerah dihimpun untuk memperkuat usulan sebelum disampaikan kepada pemerintah.
“Awal perjuangan ditetapkannya Hari Keroncong itu dari Sidoarjo. Kalau tidak ada Sidoarjo, kemungkinan keroncong hanya sebatas angan-angan,” ujarnya.
Gustaf menjelaskan, dukungan dari berbagai pihak berhasil dihimpun sebelum usulan tersebut disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan. Dukungan itu menjadi bagian penting dalam proses hingga 1 Oktober akhirnya ditetapkan sebagai Hari Keroncong Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2026.
Baca juga: Pemkab Sidoarjo Teguhkan Komitmen dalam Perkuat Persatuan Bangsa di Hari Kesaktian Pancasila
Karena itu, tema “Awal Perjuangan dari Sidoarjo” bukan sekadar penanda asal sebuah gagasan. Di dalamnya terdapat sejarah keterlibatan para pelaku seni yang perlu dirawat, sekaligus tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.
Tantangan keroncong saat ini pun telah bergeser. Jika sebelumnya perjuangan diarahkan untuk memperoleh pengakuan, kini perhatian perlu diperluas pada keberlanjutan ekosistem kesenian, mulai dari pembinaan pemain hingga regenerasi kelompok.
Tanpa keterlibatan generasi muda dan ruang berkarya yang memadai, pengakuan terhadap keroncong berisiko berhenti sebagai catatan sejarah. Padahal, keberlangsungan sebuah kesenian sangat ditentukan oleh seberapa jauh masyarakat memberikan ruang bagi perkembangannya.
Gustaf berharap Sidoarjo tidak berhenti sebagai daerah yang memiliki rekam jejak dalam perjuangan penetapan Hari Keroncong. Lebih dari itu, daerah ini diharapkan mampu mengambil peran dalam membangun masa depan musik tersebut.
“Harapan kita Sidoarjo bisa menjadi barometer keroncong Indonesia. Namun, itu bergantung pada bagaimana kita mengelola proses pembinaan. Kita harus bersama-sama merumuskan pola pembinaan agar keroncong terus berkembang,” harapnya.
Menurutnya, cita-cita tersebut membutuhkan pola pembinaan yang terarah dan melibatkan berbagai pihak. Keberadaan komunitas, kesempatan tampil, serta keterlibatan pemain muda menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan keroncong.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua BKD Sidoarjo Ahmad Misbachul Munir. Ia turut melihat langsung potensi seniman keroncong yang tampil dalam peringatan tersebut.
Baca juga: Sidoarjo Bidik STBM Paripurna 2026, Tim Verifikator Nasional Tinjau Enam Lokasi
Misbah menilai potensi seniman keroncong di Sidoarjo cukup besar dan berkembang di berbagai kelompok usia. Menurutnya, seniman senior maupun junior sama-sama memiliki kemampuan yang perlu terus diberi ruang untuk berkembang.
“Saya melihat potensi seniman keroncong di Sidoarjo ini sangat-sangat besar. Yang senior, yang junior, itu semua berkembang dengan sangat baik. Ini potensi yang harus dikembangkan,” ujarnya.
Menurut Misbah, penyelenggaraan berbagai kegiatan keroncong berskala nasional di Sidoarjo juga menjadi kebanggaan bagi pemerintah daerah. Selain menjadi ruang pertunjukan, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi para seniman untuk menampilkan karya dan kreativitas mereka.
“Bagi pemerintah daerah tentu ini sangat membanggakan. Ke depan, saya berharap akan banyak ruang yang bisa teman-teman seniman keroncong gunakan untuk menampilkan kreasinya,” imbuhnya.
Penyediaan ruang berkarya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keroncong. Sebab, pengakuan secara nasional perlu diikuti kesempatan bagi para seniman untuk terus bermain, berkreasi, dan melibatkan generasi baru.
Ke depan, keberadaan keroncong perlu terus dijaga melalui pembinaan, pertunjukan, regenerasi, dan dukungan masyarakat. Dengan begitu, perjuangan yang berawal dari Sidoarjo tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi tetap berlanjut melalui karya dan kiprah para pelaku seni.
Editor : Achmad Supriyadi