Pembunuhan Berantai di Afsel, Korban Capai 30 Orang Lebih

selalu.id
(Dok. REUTERS/Oupa Nkosi/Ist).

selalu.id - Kepolisian Afrika Selatan (Afsel) menggelar operasi perburuan besar-besaran usai tiga aksi penembakan massal terpisah mengguncang negara tersebut dalam kurun waktu semalam.

Tragedi berdarah yang merenggut lebih dari 30 nyawa ini makin mempertegas krisis kejahatan kekerasan yang kian mengkhawatirkan.

Baca juga: Curiga Gundukan Tanah, Pemilik Rumah di Mojokerto Temukan Jasad Bayi Terbungkus Kain Merah 

Insiden berdarah pertama terjadi di Wedela, Distrik West Rand, luar kota Johannesburg, pada Sabtu malam.

Delapan pria bersenjata pistol dan senapan serbu AK-47 memberondong pelanggan yang sedang berkumpul di luar sebuah kedai, sebelum akhirnya menerobos masuk dan kembali melepaskan tembakan secara brutal.

"Tersangka kemudian memasuki kedai dan terus menembaki pelanggan di dalam," tulis perwakilan Kepolisian Afrika Selatan melalui akun resminya di platform X.

Sebelum kabur menggunakan dua kendaraan yang belum teridentifikasi, para pelaku sempat menggeledah para korban dan merampas ponsel mereka. Akibat aksi keji ini, 17 orang dilaporkan tewas dan 15 lainnya luka-luka.

Tak berselang lama, pembantaian serupa terjadi di sebuah tempat hiburan malam di Lwandle, Western Cape, Minggu dini hari.

Bersenjata lengkap, kelompok orang tak dikenal menerobos masuk dan menembaki para pengunjung. Lima orang tewas seketika di lokasi kejadian, sementara lima korban lainnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit akibat luka parah.

Polisi menduga aksi koboi di Lwandle dipicu oleh persaingan bisnis.

"Tampaknya ada kecemburuan bisnis yang menjadi pemicu, karena orang-orang mungkin membeli alkohol di tempat yang lebih murah lalu datang minum di tempat ini. Namun kami masih mendalaminya," ungkap Letnan Jenderal Sizkhele William Dyantyi.

Baca juga: Jatanras Polda Jatim Bekuk Mantan Satpam Pembunuh Nenek di Pasuruan

Di wilayah yang sama, polisi Western Cape juga tengah mengusut kasus penembakan di Khayelitsha yang menewaskan empat orang pada Sabtu malam sekitar pukul 19.15 waktu setempat.

Tiga pria ditemukan tewas dengan luka tembak ganda di sekitar mobil, sedangkan korban keempat meninggal dunia sesaat setelah tiba di fasilitas medis. Identitas dan motif pelaku hingga kini masih misterius.

Eskalasi penembakan massal di Afrika Selatan disebut para ahli makin mengkhawatirkan dan kerap menyasar komunitas berpenghasilan rendah.

Hanya sepekan sebelumnya, 11 orang, termasuk wanita yang diduga hami, tewas ditembak di selatan kota Durban. Data kepolisian menunjukkan angka kriminalitas yang mengerikan, di mana rata-rata 58 orang terbunuh setiap harinya sepanjang Januari hingga Maret.

Kondisi makin mencekam menyusul penemuan 10 mayat wanita yang dibuang di area terbuka dan tepi jalan sekitar Johannesburg. Temuan ini memicu kepanikan hebat warga, sementara polisi masih menyelidiki keterkaitan antar-kasus.

Baca juga: Polisi Sebar 5 Tim Buru Terduga Pembunuh Sekdin DPRKPP Bangkalan

Maraknya kekerasan ini tak lepas dari kuatnya cengkeraman jaringan sindikat narkoba, pemerasan, penambangan liar, hingga jalur perdagangan kokain asal Amerika Selatan. Parahnya, praktik kriminal terorganisir ini juga merambah internal kepolisian.

Menteri Kepolisian Senzo Mchunu bahkan sempat dinonaktifkan sementara tahun lalu atas dugaan keterlibatan dengan sindikat kejahatan.

Merajalelanya aksi kejahatan ini merespons keras Presiden Cyril Ramaphosa. Ia mengumumkan pengerahan militer untuk membackup kepolisian dalam memberantas geng radikal dan sindikat kriminal.

"Ini adalah ancaman paling mendesak bagi demokrasi kita, masyarakat kita, dan pembangunan ekonomi kita," tegas Ramaphosa.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru