Alasan di Balik 9 Ulama Sepuh Pilih Kiai Miftachul Akhyar Sebagai Rais Aam PBNU

Reporter : Zein Muhammad
Sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) berkumpul, membawa bobot spiritual dan keilmuan tertinggi jam’iyyah untuk menentukan pimpinan Rais Aam PBNU. (Dok. Istimewa).

selalu.id - Di balik pintu tertutup Gedung Sidang Pleno V Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, takdir kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan dirumuskan.

Pada Minggu (30/8/2026) malam, ruang musyawarah menjadi saksi ketika sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) berkumpul, membawa bobot spiritual dan keilmuan tertinggi jam’iyyah untuk menentukan sosok penuntun organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Baca juga: KH Miftachul Akhyar Kembali Emban Amanah Sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031

Musyawarah sembilan kiai sepuh ini bukan sekadar prosesi pemungutan suara biasa. Di tanah kelahiran para muassis (pendiri) NU, para anggota AHWA menyelami ikhtiar keutamaan: mencari sosok yang tidak mengejar tampuk kekuasaan, melainkan figur yang siap menuntun jam’iyyah kembali ke akar spiritualnya memasuki abad kedua.

Pilihan sembilan ulama sepuh ini akhirnya bulat menunjuk kembali KH Miftachul Akhyar untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Keputusan mufakat sembilan ulama tersebut diumumkan secara khidmat oleh KH Anwar Iskandar dari atas podium.

Baca juga: 9 AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, KH Nurul Huda Djazuli Dapat Suara Tertinggi

Pilihan AHWA yang jatuh kepada Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini didasarkan pada rekam jejak integritas dan sanad keilmuan yang kokoh.

Di mata para ulama sepuh, Kiai Miftach yang berguru di pesantren Tambakberas, Rejoso, Sidogiri, hingga Lasem sejak usia delapan tahun, merupakan gambaran ideal kepemimpinan yang teduh, independen, dan teguh memegang prinsip, sebagaimana dibuktikannya saat melepaskan jabatan Ketua Umum MUI demi menghindari rangkap jabatan.

Baca juga: PBNU 2021-2026 Resmi Demisioner, KH Yahya Cholil Staquf Minta Maaf

Melalui kehendak dan pertimbangan mendalam sembilan ulama sepuh AHWA, obor kepemimpinan tertinggi PBNU kini resmi kembali menyala di tangan Kiai Miftachul Akhyar.

Amanah abadi dari tanah Jombang ini menjadi pijakan utama NU untuk terus merawat tradisi, menyejukkan umat, dan menuntun langkah organisasi menyinari dinamika zaman.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru