selalu.id - Muktamar ke-35 NU secara resmi mengubah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Muktamirin memilih Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dengan 401 suara banding 150 untuk pemilihan langsung, sebagaimana diberitakan sejumlah media nasional. Keputusan ini disusul disepakatinya Pasal 7 Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam, termasuk persyaratan iddah politik satu tahun dari partai politik, sehingga sejumlah calon praktis tidak memenuhi syarat.
Keputusan iddah politik ini sejalan dengan aspirasi mayoritas warga NU. Survei Parameter Politik Indonesia pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi menunjukkan 65,8 persen warga NU setuju organisasi menjauh dari politik elektoral, dan 76,1 persen berharap PBNU fokus mengurus umat dan agama.
Baca juga: Pencalonan Gus Yusuf Gugur, Muktamar ke-35 NU Diwarnai Kericuhan
Penjaringan calon AHWA saat ini tengah berlangsung dengan lebih dari 21 nama kiai dan ulama yang dihitung suaranya. Di tengah proses tersebut, peta bursa calon ketua umum mengerucut pada dua nama, Gus Kikin dan Gus Yahya, sementara lima calon sepakat pemilihan dilakukan melalui AHWA.
Dukungan terhadap Gus Kikin datang dari tuan rumah Muktamar. Ketua PCNU Kabupaten Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menilai Gus Kikin sosok ideal memimpin PBNU. "Gus Kikin ini zuriah muassis, cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Darahnya sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga pengusaha, sudah mentas dengan dirinya, insyaallah enggak golek urip nang NU, bisa nguripi," ujarnya.
"Selama menjadi Ketua PWNU Jawa Timur, kepemimpinan beliau teduh dan adem. Beliau pernah menjadi salah satu ketua di PBNU, wakil ketua di PWNU, dan tidak pernah punya masalah dengan organisasi. PWNU Jawa Timur resmi mengusung beliau dengan amanah 45 PCNU se-Jawa Timur, maka PCNU Jombang sami'na wa atho'na, kami sepakat mengusung beliau," lanjutnya.
Baca juga: Setelah Voting, Pemilihan Ketum PBNU Berubah ke Mekanisme AHWA
Penilaian serupa disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, yang menilai Gus Kikin sebagai "sosok yang teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah."
Kebangkitan figur kewirausahaan dalam bursa ini bukan tanpa preseden. KH Hasan Gipo, saudagar Surabaya, tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pertama. Bahkan Gus Fahmi sejak April lalu pernah menyampaikan bahwa calon ketua umum tidak harus dari kalangan kyai dan menyoroti sosok Hasan Gipo, serta berharap ketua umum dari kalangan pengusaha. Warna manajerial dan entrepreneurship seperti memutar jarum jam sejarah NU.
Warna kewirausahaan itu sejalan dengan gagasan ekonomi Gus Kikin yang menawarkan konsolidasi ekonomi warga NU, dari kekuatan pasar nahdliyin hingga ekonomi digital, dengan semangat bahwa UMKM bukan sekadar usaha, tetapi perjuangan hidup warga. Ini menjadi kesempatan NU untuk melakukan inventarisasi dan optimalisasi aset serta digitalisasi organisasi, sebagaimana semangat Qanun Asasi yang dihidupkan kembali.
Baca juga: Gus Salam Ungkap Muktamar ke-35 NU Diwarnai Kekerasan Panitia ke Peserta
Gus Kikin sendiri selama ini konsisten menegaskan, "ini amanah, bukan niat pribadi. Bila memang ditugaskan, insyaallah saya siap," dan baru-baru ini menyampaikan, "saya selalu optimistis," seraya menyerukan NU tetap rukun.
Sebagaimana dawuh Gus Sholah yang diingat Gus Fahmi, jangan biarkan air mata muassis ini menetes karena ulah kita. Kedaulatan tetap di tangan muktamirin dan para ulama AHWA.
Editor : Redaksi