Ratusan Anak Muda Jember Politik PAR Alternatif Indonesia, Lawan Oligarki dengan Nilai Bukan Identitas
- Penulis : Ahmad Nurul Wijaya
- | Sabtu, 24 Okt 2026 20:50 WIB
selalu.id - Ratusan anak muda dari Kabupaten Jember dan berbagai daerah lainnya berkumpul dalam kegiatan Pendidikan Politik Jilid 2 yang diselenggarakan PAR Alternatif Indonesia pada 23–25 Oktober 2026.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi lintas organisasi untuk memperkuat kapasitas, integritas, dan ketahanan gerakan masyarakat sipil.
Baca Juga: IMM Jember Gelar Aksi Demo, Desak Pemerintah Serius Benahi 7 Persoalan Pendidikan
Peserta berasal dari beragam organisasi kemahasiswaan (ormek), organisasi kepemudaan, hingga kelompok gerakan yang memiliki perhatian terhadap persoalan sosial dan politik. Mereka dipertemukan untuk bertukar gagasan, memperluas perspektif, serta membangun kolaborasi dalam memperjuangkan kepentingan publik.
Direktur Eksekutif PAR Alternatif Indonesia, Andi Saputra, menegaskan bahwa pendidikan politik tidak sekadar memberikan pemahaman mengenai dinamika politik, tetapi juga membentuk generasi muda yang memiliki pengetahuan hukum dan keberanian dalam merespons persoalan masyarakat.
Menurut Andi, gerakan sipil membutuhkan tiga fondasi utama, yakni kapasitas, integritas, dan resiliensi atau daya tahan. Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan agar gerakan anak muda tidak hanya mampu menyuarakan kritik, tetapi juga konsisten memperjuangkan perubahan.
“Bagaimana kita menambah kapasitas, integritas, dan menyatukan antarelemen serta gerakan yang ada di Jember. Kita juga harus memiliki resiliensi,” ujarnya.
Ia menilai, salah satu tantangan dalam membangun gerakan bersama adalah perbedaan latar belakang dan identitas organisasi. Padahal, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sekat yang menghambat kolaborasi.
Andi mengajak para peserta untuk lebih mengutamakan nilai, prinsip, dan tujuan perjuangan dibandingkan identitas kelompok. Menurutnya, solidaritas lintas organisasi diperlukan untuk menghadapi ketimpangan kekuasaan dan berbagai bentuk penindasan.
“Melawan oligarki dan penindasan. Jangan lihat warna, tetapi value atau nilai yang diperjuangkan,” tegasnya.
Baca Juga: Perampokan Toko Emas di Jember, Pelaku Bawa Tas Isi Mata Uang Asing dan Valas Raib
Ia juga menekankan pentingnya membangun ruang perjumpaan yang terbuka bagi berbagai elemen masyarakat sipil. Melalui ruang tersebut, anak muda dapat saling bertukar pengalaman, mengembangkan kemampuan membaca persoalan sosial, serta merumuskan langkah bersama yang lebih terarah.
Pendidikan politik ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai organisasi, yakni Muhammad Fakhrurozi dari Kawal Keadilan, Jorgiana Augustine dari Bareng Warga, Saiful Amin selaku Koordinator Komite Politik, serta Donny Ardyanto dari Kurawal Foundation.
Keterlibatan para narasumber dengan latar belakang berbeda diharapkan mampu memperkaya pembahasan sekaligus memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi gerakan masyarakat sipil. Peserta juga diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas dalam memahami persoalan politik, hukum, dan sosial.
Bagi Andi, penguatan gerakan sipil tidak bisa berhenti pada kegiatan diskusi maupun pertemuan sesaat. Pendidikan politik harus mampu mendorong lahirnya kesadaran kritis, konsistensi dalam perjuangan, serta keberanian generasi muda untuk mengambil peran dalam kehidupan publik.
Baca Juga: Cerita Warga Jember Rasakan Manfaat Mobil Cinta, Pulang Berobat Tak Lagi Pikir Biaya
Ia berharap Jember dapat berkembang menjadi salah satu ruang strategis bagi pertumbuhan gerakan anak muda di kawasan Tapal Kuda. Dengan bekal pengetahuan, integritas, dan daya tahan yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menghadirkan gagasan serta mengambil peran dalam menentukan arah perubahan.
“Saya berharap betul bahwa Jember adalah hak dari Tapal Kuda. Berkuasalah karena ide tidak bisa dititipkan,” ungkapnya.
Kegiatan Pendidikan Politik Jilid 2 yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antarkelompok, tetapi juga melahirkan kolaborasi yang berkelanjutan.
Penguatan kapasitas dan solidaritas lintas organisasi menjadi modal penting bagi anak muda untuk terlibat aktif dalam mengawal persoalan masyarakat dan memperjuangkan kepentingan publik.
Editor : Achmad Supriyadi