Kisah Dua Saudara di Nganjuk Merawat Takdir Gamelan Legendaris di Panggung Dunia
- Penulis : selalu.id
- | Selasa, 20 Okt 2026 22:22 WIB
selalu.id - Siapa sangka, dari sebuah desa di Kabupaten Nganjuk, alunan gema gamelan khas Jawa mampu terbang menembus batas negara.
Kerajinan Gamelan Mustika Laras yang berlokasi di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, kini tak hanya menguasai pasar nasional, tetapi juga berhasil memikat pencinta musik tradisional di mancanegara.
Baca Juga: Gegara Sampah, Garasi Rumah dan Mobil di Nganjuk Ludes Terbakar
Usaha yang berdiri sejak 1959 itu kini berada di tangan penerus generasi keempat, Nilunda Arsyi Parahita (23), bersama adiknya, Naufal. Produk instrumen lokal tersebut terbukti mampu menembus pasar internasional.
"Paling banyak pemesanan dari Jawa Timur. Lalu luar Jawa ada Kalimantan, Sumatera, Lampung. Kemudian luar negeri sudah menjangkau Singapura, Malaysia, Timor Leste, bahkan Australia pernah kirim ke sana," kata Nilunda kepada selalu.id, Selasa (20/10/2026).
Alumni Sastra Inggris UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut mengungkapkan, pesanan internasional membawa tantangan teknis tersendiri.
Berbeda dengan pasar domestik yang berpatokan pada pakem pentatonis, pemesan luar negeri umumnya meminta laras nada diatonis.
Proses pembuatan kerajinan gamelan Mustika Laras di Nganjuk. (Foto: Yohanes/selalu.id).
"Kalau dalam negeri kan jelas, nadanya sesuai pakem gamelan. Pentatonis. Nah, kalau luar negeri itu kan diatonis, jadi kayak nada keyboard gitu. Sehingga tuning-nya berbeda dan harus teliti betul," jelasnya.
Eksistensi Mustika Laras sendiri memiliki rekam jejak panjang selama 67 tahun. Dirintis pertama kali oleh sang kakek buyut, Prawiro Gudel, usaha ini dilanjutkan oleh generasi kedua, Pak Nurhadi, pada era 1980-an, lalu diteruskan oleh Didik Adiyono pada 2008.
Sejak 2023, Nilunda dan adiknya resmi memegang kendali penuh setelah kedua orang tuanya wafat.
Baca Juga: Jaga Kamtibmas, Kapolres Nganjuk Instruksikan Kapolsek Jajaran Cek Rutin SPBU
"Ayah dan ibu sudah kapundut (wafat). Jadi yang meneruskan saya dan adik saya. Berdua, sebagai generasi keempat," tutur Nilunda.
Di bengkel produksi, para perajin tetap telaten menggarap instrumen secara manual mulai dari demung, saron, peking, gong, slenthem, gender, bonang, hingga perangkat pendukung seperti tabuh, kenong, dan rancak.
Rangkaian prosesnya memakan waktu panjang, meliputi penyiapan bahan mentah, pembakaran, pembentukan, penyambungan las listrik, penghalusan gerinda, penataan nada (tuning), hingga pengecatan.
Pembuatan kerajinan gamelan Mustika Laras di Nganjuk. (Foto: Yohanes/selalu.id).
Mengenai harga, satu paket gamelan lengkap dibanderol mulai Rp90 juta untuk material besi puncu kuningan, sedangkan untuk material full kuningan dapat mencapai Rp300 juta per paket.
Baca Juga: KSPSI Apresiasi Desk Ketenagakerjaan Kapolri dan Batalkan Aksi Buruh 20 Oktober
Meski volume pesanan kini berada di kisaran satu set per bulan, berbeda dengan masa lalu yang mencapai 5 hingga 8 set, Nilunda tetap optimistis.
"Kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai Gen Z. Karena selain turut andil melestarikan budaya Jawa, Mustika Laras ini adalah usaha keluarga, jadi harus tetap ada," ungkapnya.
Nilunda pun berharap adanya dorongan nyata dari pemerintah daerah maupun pusat, khususnya dalam penguatan promosi melalui festival budaya dan program pertukaran budaya agar seni gamelan terus lestari di panggung global.
Reporter: Yohanes Arberto
Editor : Zein Muhammad