Ritual Malam Anggoro Kasih di Sendang Agung, Warga Sidoarjo Jaga Nilai Luhur Budaya Jawa
- Penulis : Ariyanto
- | Selasa, 20 Okt 2026 11:34 WIB
selalu.id - Situs Sendang Agung di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, kembali menjadi pusat pelestarian budaya Jawa Malam Anggoro Kasih, Senin (19/10/2026) malam.
Kegiatan ini bukan hanya seremoni, tetapi upaya menjaga agar nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung Siswo Adi Tjahyono menjelaskan Malam Anggoro Kasih merujuk pada malam Selasa Kliwon dalam penanggalan Jawa. Hari dan pasaran itu diyakini memiliki makna spiritual khusus.
"Dalam penanggalan Jawa, Malam Anggoro Kasih merujuk pada malam Selasa Kliwon. Bagi sebagian masyarakat Jawa, perpaduan hari (dina) dan pasaran (pasaran) ini dipandang sebagai momen sakral yang kaya ruang spiritual. Waktu ini dihayati sebagai ruang untuk bermeditasi, introspeksi diri (mulat sarira), memanjatkan doa keselamatan, serta menyampaikan rasa hormat mendalam kepada para pendahulu," tegasnya.
Suasana khidmat terasa saat prosesi Jamasan Gong milik Situs Sendang Agung digelar. Gong pusaka dibersihkan sebagai bentuk merawat benda budaya yang menjadi identitas situs.
Usai prosesi, acara dilanjutkan dengan jamuan tumpengan. Tumpeng menjadi simbol syukur atas melimpahnya hasil panen padi di Urangagung tahun ini.
Dalam tradisi Jawa, tumpeng bukan sekadar sajian. Ia melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesama, serta mencerminkan nilai gotong royong, kerukunan, dan kebersamaan.
Kedekatan masyarakat dengan agraris ini juga jadi pengingat pentingnya menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal.
Prakarsa kegiatan Sugiharto menekankan pelestarian budaya tidak bisa lepas dari keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda. Mereka perlu memahami makna di balik tradisi agar warisan tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu.
"Nilai-nilai luhur Jawa, seperti tepa selira (tenggang rasa), gotong royong, penghormatan kepada tetua, dan mawas diri, dinilai tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern. Warisan budaya tidak sebatas romantisme masa lalu, melainkan kompas moral dalam membangun tata kehidupan sosial yang harmonis dan inklusif," terangnya.
Tantangan ke depan, menurutnya, bukan hanya menjaga fisik situs, tapi juga kesinambungan pengetahuan sejarah. Dokumentasi kegiatan, pelibatan anak muda, dan penyampaian sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan jadi kunci agar warisan ini terus diteruskan.
Editor : Achmad Supriyadi