Krisis Air Bersih dan Gagal Panen Mengancam Indonesia, Ini Peringatan BMKG
- Penulis : Zein Muhammad
- | Senin, 19 Okt 2026 20:20 WIB
selalu.id - Ancaman krisis air bersih dan bencana hidrometeorologi di Indonesia kian memprihatinkan akibat perubahan iklim yang masif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendesak langkah konkret mitigasi dan adaptasi guna menjaga ketahanan sumber daya air nasional dari risiko kekeringan ekstrem hingga gagal panen.
Baca Juga: Diam-diam Prabowo Panggil Tito dan Dudung untuk Rapat Terbatas, Ada Apa?
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, data historis mencatat suhu permukaan rata-rata di Tanah Air telah melonjak 1,04 derajat Celsius selama 45 tahun terakhir.
Tren ini memperparah penyusutan curah hujan tahunan hingga 2–3 persen per dekade, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa, disertai kenaikan muka air laut sebesar 4,4 milimeter per tahun.
Baca Juga: Kapolri Ungkap Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Kasus Karhutla, Bidik Tersangka Baru
"Kondisi-kondisi tersebut sangat tidak sederhana bagi masyarakat kita. Perubahan siklus iklim ini menyebabkan terganggunya keseimbangan neraca air, yang memicu anomali cuaca yang semakin ekstrem," terang Faisal kepada wartawan usai menghadiri rapat koordinasi Swasembada Air Nasional di Gedung Kemenko Infra, Senin (19/10/2026).
Faisal menegaskan bahwa penyusutan pasokan air permukaan dan air tanah di musim kemarau memicu dampak domino yang meluas.
Baca Juga: Kabut Asap, PT PMT Bagikan Masker ke Pegawai di Belawan dan Kuala Tanjung
Tidak hanya mengancam sektor pertanian dan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), krisis air bersih berdampak langsung pada aktivitas harian rumah tangga.
Guna mengantisipasi krisis berkepanjangan, BMKG merekomendasikan tiga langkah krusial. Di antaranya sinkronisasi kebijakan antarlembaga, pemerataan Early Warning System berbasis teknologi digital, serta optimalisasi Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) lintas instansi secara masif di daerah rawan kekeringan.
Editor : Zein Muhammad