Lagi Heboh! Ahli Fisika Ramal Bumi Kiamat Pekan Depan, Begini Faktanya ​

Reporter : Zein Muhammad
Ilustrasi bumi. (Dok. Google Gemini/AI).

selalu.id - Jagad maya dihebohkan dengan kembalinya sebuah artikel ilmiah lawas yang memprediksi akhir dunia.

Berjudul "Doomsday: Friday, 13 November 2026 A.D.", tulisan ini mendadak viral karena mengaitkan tanggal tersebut dengan kiamat akibat ledakan populasi manusia.

​Topik ini sontak menarik perhatian publik, mengingat tidak ada satupun makhluk yang mengetahui pasti kapan dunia berakhir.

​Berdasarkan penelusuran selalu.id, penelitian mengenai model pelacakan populasi di masa depan ini sejatinya dipimpin oleh seorang fisikawan bernama Heinz von Foerster pada tahun 1960 silam.

Saat itu, ia bersama timnya mengkhawatirkan lonjakan populasi yang tidak sejalan dengan keterbatasan sumber daya Bumi.

​Tim peneliti Foerster melakukan pemodelan dengan menggunakan perkiraan tren dari zaman Yesus hingga tahun 1958.

Hasilnya, mereka menemukan proyeksi bahwa tahun 2026 akan menjadi titik di mana populasi meledak tanpa batas (tak terhingga).

​Menariknya, tanggal 13 November yang disebut-sebut sebagai hari kiamat ternyata hanyalah sebuah lelucon atau easter egg belaka karena tanggal tersebut merupakan hari ulang tahun sang fisikawan sendiri.

​"Untuk disebut kiamat, karena pada tanggal itulah jumlah manusia menuju tak terhingga, dan populasi yang cerdas bakal memusnahkan diri sendiri. Cucu buyut tidak akan kelaparan, mereka akan mati kelaparan," kata Foerster dalam makalah yang dikutip dari IFL Science, Jumat (6/11/2026).

​Meski demikian, makalah kontroversial ini menuai perdebatan sengit di kalangan akademisi sejak pertama kali diterbitkan.

Pada tahun 1961, peneliti Marvin Shinbrot menyebut kesimpulan makalah tersebut tidak masuk akal dan sebagai bentuk penggunaan matematika yang tidak dapat diterima.

​Namun di sisi lain, ulasan pada tahun 1990 sempat mencatat bahwa model prediksi Foerster ternyata sempat jauh lebih akurat dibanding perkiraan kebanyakan ahli demografi kontemporer, setidaknya untuk kurun waktu tertentu.

​Jika di masa lalu kekhawatiran berpusat pada ledakan penduduk, dunia modern saat ini justru dihadapkan pada tantangan yang berkebalikan, yakni fenomena populasi menua (aging population) dan penurunan tingkat kelahiran di berbagai belahan dunia. Jadi, tidak perlu panik ya, Kawan Selalu!.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru