Menelusuri Jejak Pergerakan Dr Soetomo di Nganjuk, Ada Alat Medis hingga Buku Bahasa Asing

selalu.id
Anak-anak saat melihat patung Dr Soetomo di depan halaman museum. (Foto: Yohanes/selalu.id).

selalu.id - Dusun Sono, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, menjadi saksi bisu lahirnya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Di tempat inilah berdiri Monumen dan Museum Dr. Soetomo, sebuah kompleks bersejarah yang dibangun untuk mengenang jasa besar sosok pelopor kebangkitan nasional sekaligus pendiri organisasi Boedi Oetomo.

Baca juga: Top 5 Berita: Perampokan Toko Emas di Jember hingga Santri Terganjal Aturan

Keberadaan dan sejarah panjang museum ini dijelaskan langsung oleh petugas penjaga museum, Arik, saat ditemui selalu.id di lokasi, Jumat (23/10/2026).

"Iya, Desa Ngepeh, dusunnya Sono," ujar Arik mengawali perbincangan saat menunjukkkan lokasi persis museum tersebut.

Museum dan monumen yang menjadi kebanggaan warga Nganjuk ini berdiri di atas lahan bersejarah. Arik mengungkapkan, monumen tersebut telah berdiri kokoh sejak tahun 1986.

"Iya, ini patung atau monumen beliau adalah Bapak Dr. Soetomo. Tempat tinggal beliau," jelasnya.

Menurut penjelasan Arik, bangunan yang saat ini difungsikan sebagai museum merupakan aset peninggalan asli tempat tinggal keluarga Dr. Soetomo.

Penjaga museum saat membersihkan peralatan medis peninggalan Dr Soetomo. (Foto: Yohanes/selalu.id).

Secara historis, Dr. Soetomo lahir dengan nama asli Subroto di Desa Ngepeh pada 30 Juli 1888. Ia merupakan perintis pergerakan nasional yang mendirikan Boedi Oetomo bersama para pelajar STOVIA di Batavia pada 20 Mei 1908, momen bersejarah yang hingga kini diperingati sebagai Kebangkitan Nasional.

Pendirian monumen ini berawal dari komitmen bersama antara Menteri Penerangan era itu, Harmoko (Deppen Pusat), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa kepahlawanannya.

Di dalam kompleks monumen dan museum ini, pengunjung dapat menyusuri tiga bagian utama yang menjadi daya tarik wisata edukasi sejarah.

Baca juga: Soal Isu Kredit Fiktif Rp690 Juta, BRI Nganjuk Tegaskan Sesuai Prosedur

Pertama ada Patung Utama: Patung Dr. Soetomo setinggi kurang lebih 4 meter berdiri gagah di depan bangunan utama, menyambut setiap pengunjung yang datang.

Kemudian Pendopo Joglo: Tepat di belakang patung utama, berdiri pendopo megah berbentuk joglo tanpa dinding berukuran 20 x 20 meter.

Lalu Museum Sejarah: Berisi deretan artefak dan barang peninggalan bersejarah milik Dr. Soetomo.

Arik membeberkan, museum tersebut menyimpan berbagai koleksi penting terkait profesi medis Dr. Soetomo pada era kolonial.

"Kegiatan medis atau alat-alat kedokteran beliau, seperti obat, jarum, dari yang kecil dan yang besar, lampu penerangan zaman dahulu, dan vitamin-vitamin, vitamin beliau untuk menyembuhkan penyakit kulit dan jahit," terangnya.

Baca juga: Kabar Gembira, Jalan Rusak di Pace-Tanjunganom Nganjuk Segera Diperbaiki

Adapun koleksi yang tersimpan dengan rapi di dalam museum meliputi peralatan medis era kolonial: Tempat tidur pasien dari besi, tiang infus, hingga peralatan medis kuno lainnya.

Buku-buku berbahasa asing: Koleksi literatur medis berbahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. "Itu buku tentang kulit dan janin, tapi bahasanya bahasa Belanda atau bahasa Inggris," tambah Arik.

Selain itu ada dokumentasi perjuangan: Foto-foto arsip sejarah saat Dr. Soetomo memperjuangkan hak-hak rakyat serta momen ketika beliau memeriksa para pasien.

Hadirnya koleksi lengkap di Monumen dan Museum Dr. Soetomo ini menjadikannya salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi unggulan di Kabupaten Nganjuk, menjaga api semangat perjuangan Sang Pahlawan Nasional tetap menyala bagi generasi muda.

Reporter: Yohanes Arberto 

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru