Penutupan Pabrik Pakan Ternak di Nganjuk Lumpuhkan Ekonomi Warga

selalu.id
Bagus Setyo Nugroho selaku manajemen PT Nugraha Jaya Abadi saat memberikan bantuan sembako kepada Mbah Sawi. (Foto: Yohanes/selalu.id).

selalu.id - Penghentian operasional pabrik pakan ternak di Dusun Pugruk, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, sejak September 2026 lalu berdampak luas bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Tak kurang dari 30 pekerja harian lepas harus kehilangan mata pencaharian utama mereka secara mendadak.

Baca juga: Perbaikan Stadion Anjuk Ladang Nganjuk Hampir Rampung, Pakai Rumput Standar PSSI

Dampak domino berhentinya roda produksi pabrik milik PT Nugraha Jaya Abadi tersebut dirasakan langsung oleh Mbah Sawi.

Lansia yang sehari-hari menggantungkan hidup dari jasa pijat keliling ini mengaku perekonomian keluarganya makin terseok-seok.

"Saya cuman tukang pijit, sapi dan kambing juga tidak punya," turur Mbah Sawi kepada selalu.id, Jumat (9/10/2026).

Sebelum pabrik tutup, Mbah Sawi kerap dipanggil oleh keluarga pekerja pabrik untuk memijat. Namun kini, setelah daya beli warga terpuruk, langganannya drastis berkurang.

Baca juga: Kisah Mbah Slamet, Lansia di Nganjuk Bertahan Hidup dalam Sakit Seorang Diri

Beban hidupnya makin berat lantaran sang suami tengah sakit akibat faktor usia, sementara ia sendiri baru saja mengalami kecelakaan.

"Saya jatuh dari sepeda, Mas, saat pergi mijit. Sudah satu bulan ini, dan suami saya kondisinya juga sakit karena faktor usia," katanya sembari menunjukkan kakinya yang cedera.

Di tengah kondisi kritis tersebut, bantuan pangan dan uang tunai sempat datang dari Bagus Setyo Nugroho (Mas Bagus), pihak manajemen PT Nugraha Jaya Abadi yang juga anak dari mantan pimpinan tempatnya dulu bekerja.

Baca juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Pemkab Nganjuk Pede Persenga Bangkit Tembus Liga 3

Meski demikian, bantuan sembako tersebut diakui hanya bersifat sementara. Mbah Sawi bersama puluhan buruh harian lainnya sangat berharap pabrik pakan ternak di dusunnya bisa segera beroperasi kembali demi menyambung hidup.

"Semenjak pabrik ditutup susah cari makan, Mas. Selain tukang pijit, pabrik itu tempat saya mencari nafkah untuk biaya hidup sehari-hari," jelasnya.

Reporter: Yohanes Arberto

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru