Miris, Banyak Toilet Sekolah di Surabaya Rusak hingga Ruang Kelas Tanpa Pintu

Reporter : Ade Resty
Anggota Komisi D DPRD Surabaya William Wirakusuma. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Capaian pembangunan manusia di Kota Surabaya yang ditandai dengan kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mendapat catatan dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Surabaya.

Di balik capaian tersebut, PSI masih menemukan persoalan fasilitas dasar di sejumlah sekolah negeri. Mulai toilet dan wastafel yang tidak berfungsi, kebutuhan alat kebersihan yang dibeli melalui urunan, hingga ruang kelas yang disebut tidak memiliki pintu.

Baca juga: Digeruduk Gempar Jatim, Citraland Surabaya Bantah Privatisasi Air

Persoalan itu disampaikan Fraksi PSI dalam Pemandangan Umum terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kota Surabaya Tahun Anggaran 2027, Selasa (29/9/2026) lalu.

Mewakili Fraksi PSI, Wiliam Wirakusuma mengatakan capaian Pemkot Surabaya perlu dibarengi dengan pembenahan kondisi fasilitas pendidikan yang masih ditemukan di lapangan.

"Jadi kita apresiasi segala capaian pemerintah kota soal pencapaian dari angka-angkanya. IPM-nya sudah lebih bagus, kemudian TPT-nya juga turun. Tapi di lapangan kita temukan juga bahwa ternyata masalah-masalah di lapangan juga masih ada,” kata Wiliam, Kamis (1/10/2026).

Anggota Komisi D DPRD Surabaya itu menyebut persoalan yang ditemukan bukan hanya menyangkut kerusakan fasilitas besar. Kebutuhan sederhana seperti sapu, cikrak hingga kipas angin disebut masih ada yang dipenuhi melalui urunan di sekolah.

“Terutama karena saya di Komisi D, saya menemukan bahwa di sekolah itu masih ditarik urunan kas untuk beli sapu, cikrak, terus kipas angin. Padahal seharusnya itu kan bisa dipakai BOS gitu ya,” jelasnya.

Wiliam juga menyoroti kondisi toilet dan wastafel di sejumlah sekolah yang disebut tidak berfungsi dalam waktu lama.

“Toilet tidak berfungsi, wastafel sudah tahunan tidak bisa dipakai, itu masih banyak di sekolah. Dan laporan itu bergulung-gulung banyak yang masuk ternyata tidak cuma satu-dua sekolah. Ada banyak sekolah yang seperti itu, apalagi yang di pinggiran-pinggiran,” ungkapnya.

Baca juga: Pemkot Surabaya Batasi Kendaraan Dinas, Kadis Dipegangi Mobil Listrik

Menurut Wiliam, persoalan fasilitas bahkan ditemukan pada ruang kelas. Ia menyebut salah satu contohnya berada di SMP Negeri 60 Surabaya yang disebut memiliki ruang kelas tanpa pintu.

“Terus ada juga sekolah yang pintu kelasnya tidak ada. Jadi pintu kelasnya itu tidak ada, bolong. Itu sekolah negeri, jadi ini kan sangat miris, itu di SMP 60,” katanya.

Ia juga menyebut sejumlah sekolah lain yang masih membutuhkan perhatian terhadap fasilitas sanitasi.

Di antaranya SMP Negeri 18, SMP Negeri 3 dan SMP Negeri 17 Surabaya. Wiliam menyebut kondisi toilet maupun wastafel di sekolah-sekolah tersebut masih mengalami persoalan.

Baca juga: DPRD Surabaya Desak Sanksi ASN Diterapkan Adil Tanpa Pandang Bulu

“Terus ada laporan di SMP 18 itu juga toiletnya juga jelek gitu ya. Saya sempat ke SMP 3, toiletnya tidak berfungsi juga, wastafelnya tidak berfungsi. SMP 17, wastafelnya tidak berfungsi juga. Yang buat toilet cowoknya, untuk wastafelnya juga airnya tidak nyala pokoknya gitu,” tuturnya.

Atas kondisi tersebut, PSI meminta Pemkot Surabaya memperkuat alokasi anggaran pemeliharaan fasilitas sekolah dalam APBD 2027.

Wiliam menilai kebutuhan pemeliharaan fasilitas dasar tidak bisa dibiarkan menunggu kerusakan menjadi lebih parah. Terlebih, toilet dan fasilitas sanitasi berkaitan langsung dengan kebersihan dan kesehatan siswa.

“Jadi memang perlu ada anggaran khusus mungkin untuk memperbaiki toiletnya dulu. Karena ini kan juga untuk kebersihan dan kesehatan anak-anak,” tegasnya.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru