selalu.id - Di balik rumah sederhana di Desa Watukenongo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto suara kicau murai batu bersahutan sejak pagi. Dari sinilah D'Javid Bird Farm milik David Willi (34) merintis reputasinya.
Sudah 12 tahun David menekuni dunia ternak murai batu. Bermula dari hobi, kini ia dikenal sebagai salah satu peternak yang disegani kicau mania di Indonesia.
Baca juga: Pertahankan Gelar, Kota Mojokerto Borong 8 Penghargaan dan Juara Umum Fesyar Regional Jawa
Di kandang yang ia bangun di lahan kosong belakang rumah itu, kini ada sekitar 30 ekor murai batu dengan 7 indukan produktif yang jadi “mesin” utama.
“Untuk omset alhamdulillah bisa untuk mencukupi keluarga dan biaya anak sekolah sampai besar, InsyaAllah,” ujar David, Minggu (26/9/2026).
Perjalanan David tidak dimulai dari kandang. Sebelumnya ia adalah pedagang buah. Di sela waktu jualan, ia aktif sebagai kicau mania. Murai miliknya beberapa kali naik podium di lomba, dan nama David pun mulai diperhitungkan.
Tahun 2014 jadi titik balik. Burung yang tidak sedang dalam kondisi lomba ia masukkan ke kandang ternak. Dari situlah D'Javid Bird Farm lahir.
“Awal-awal beternak murai itu saya berawal dari hobi, terus ada beberapa burung yang saya lombakan itu menang, kemudian (burung) yang tidak kondisi saya masukkan kandang ternak,” tutur suami Sinta Amelia ini.
Baca juga: Kebakaran TPA Belahantengah Mojokerto, 60 Persen Timbunan Sampah Ludes
Rutinitasnya sederhana tapi konsisten. Setiap pagi David mengganti pakan, air minum, dan memberi pakan tambahan.
“Setiap pagi kita ganti minum, makan, terutama EF atau ekstra fooding seperti jangkrik dan kroto,” jelasnya.
Untuk pemasaran, David mengandalkan penjualan online. Anakan murai hasil ternaknya dibanderol mulai Rp3,5 juta hingga Rp10 juta per ekor. Burung-burung itu sudah terbang ke berbagai daerah.
“Beberapa ekor ada juga yang laku terjual ke luar pulau, seperti lampung, medan dan banjarmasin, (burung) Kita itu yang kategori buat lomba,” terangnya.
Baca juga: Pemkot Mojokerto dan IDI Perkuat Kolaborasi dalam Maksimalkan Layanan Kesehatan
Namun jalan menuju sukses tidak mulus. David pernah mengalami masa sulit ketika indukan di kandangnya mogok bertelur.
“Dulu pernah 2 tahun cuma ngasih makan saja karena burung tidak ada yang produk, kemarin itu juga ada sekitar 1,5 tahun tidak ada anakan sama sekali,” pungkasnya.
Dari kegagalan itu David belajar membaca karakter burung. Ia memahami pola makan, suasana kandang, hingga waktu produktif tiap indukan. Kesabaran itulah yang kini berbuah.
Kini D'Javid Bird Farm bukan sekadar tempat ternak. Ia menjadi bukti bahwa hobi, jika ditekuni serius, bisa jadi sumber penghidupan dan mengharumkan nama daerah.
Editor : Achmad Supriyadi